Optimasi Kalium pada Tanaman Sawit

Seperti kita ketahui, pemberian nutrisi yang tepat dan berimbang, merupakan salah satu faktor keberhasilan dari budidaya tanaman kelapa sawit. Sama seperti tanaman lainnnya, sawit juga membutuhkan setidaknya 6 unsur hara makro (N, P, K, Ca, Mg, dan S) serta 8 unsur hara mikro (B, Fe, Cu, Mn, Zn, Mo, Na, dan Cl).

Salah satu unsur hara yang sangat penting dalam pertumbuhan dan produksi tanaman sawit adalah Kalium (K). Unsur hara ini dibutuhkan dalam jumlah yang banyak karena mempengaruhi kualitas dan kuantitas tandan serta resistensi terhadap penyakit dan stres kekeringan.

K juga mengatur fungsi stomata pada daun serta berperan penting untuk transportasi asimilasi dari fotosintesis, mengaktifkan enzim, dan sintesis minyak.

Gejala defisiensi K pada tanaman sawit, yaitu munculnya bercak oranye, mid-crown yellowing, dan white strip (terjadi karena ketidak seimbangan ratio N/K).

Pada umumnya, gejala defisiensi K terjadi apa bila sawit ditanam pada tanah gambut, tanah berpasir, dan tanah yang asam dengan Kapasitas Tukar Kation (KTK) yang rendah. Atau pun daun #17 : K < 1,0 %.

Aplikasi pupuk yang mengandung K harus diberikan sesuai dengan kebutuhan. Kelebihan K dapat menyebabkan kekurangan Magnesium (Mg) dan Boron (B). Dan, dapat menurunkan rasio minyak dalam tandan buah.

Idealnya pupuk yang mengandung K diberikan 2-3 kali setahun, dan pada tanah gambut dan tanah berpasir sebanyak 3-4 kali setahun. Pemupukan harus dilakukan secara berimbang, dan dilakukan secara efektif dan efisien sesuai dengan ketersediaan hara di dalam tanah.

Untuk dosis pupuk, ditentukan berdasarkan umur tanaman, hasil analisis daun, jenis tanah, produksi tanaman, hasil percobaan, dan kondisi visual tanaman (Karmawati, 2012).

Untuk pupuk yang mengandung K, PT Meroke Tetap Jaya merekomendasikan dua produk, yaitu Korn-Kali+B dan Meroke MOP.

Korn-Kali+B

 Pupuk majemuk ini mengandung unsur hara 40% K; 6,0% Mg; 4,0% Sulfur (S); dan 0,8% B yang dapat langsung diserap oleh tanaman. Kandungan unsur hara dalam Korn-Kali+B berfungsi untuk memacu pertumbuhan dan meningkatkan kualitas hasil produksi. Juga, meningkatkan fungsi enzim, dan sintesa protein.

Keuntungan mengaplikasikan Korn-Kali+B untuk tanaman sawit, di antaranya mengoptimalkan keseimbangan untuk hara K : Mg di dalam tanah agar dapat diserap secara efisien oleh tanaman.

Pupuk ini juga menghemat biaya aplikasi pemupukan hingga 3 kali jadwal pemupukan. Bila dibandingkan dengan pupuk tunggal, biaya aplikasi Korn-Kali+B lebih hemat, karena pemakaian 6 kg pupuk yang berkualitas granular ini setara dengan: 4 kg pupuk KCl/MOP, 1,3 kg pupuk Solu MAG, dan 100 gram pupuk Borate.

Dengan aplikasi 4-6 kg Korn-Kali+B per pohon yang dibagi menjadi dua kali akan memenuhi kebutuhan K, Mg, dan B selama setahun pada Tanaman Menghasilkan (TM) KelapaSawit.

Meroke MOP

 Untuk pemilihan pupuk tunggal, direkomendasikan mengaplikasikan Meroke MOP. Pupuk ini adalah pupuk tunggal KCl yang mengandung 60% K. Selama ini, Meroke MOP sudah banyak dipakai oleh petani dan pengusaha tani untuk memenuhi kebutuhan hara K agar tanaman dapat berproduksi optimal.

Keuntungan mengaplikasikanMeroke MOP, di antaranya tanaman akan lebih kuat, tahan stres lingkungan, toleran terhadap penyakit dan kualitas buah (warna kulit buah, warna daging buah, berat, besar, manis dan daya simpan buah) yang dihasilkan lebih baik.

Aplikasi pupuk Meroke MOP sebaiknya pada awal pertumbuhan atau sebagai pupuk dasar dan tahap pembesaran dan pematangan buah. Informasi selengkapnya mengenai produk-produk, bisa mengunjungi website www.meroketetapjaya.com.

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like