Optimalisasi Pengadaan Tandan Buah Segar (TBS) Pihak Ketiga Sebagai Strategi Untuk Meningkatkan Net Profit Margin (NPM) Perusahaan Oleh : Ir H Said Nizam Luthfi MM*

Pendahuluan

Luas perkebunan rakyat di Sumatera Utara menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Peningkatan tersebut menunjukkan betapa berpengaruhnya keberadaan Perkebunan Rakyat di Sumatera Utara. Demikian halnya dengan pengembangan perkebunan kelapa sawit rakyat di Indonesia, khususnya Sumatera Utara, secara fisik terkesan menunjukkan adanya kemajuan yang menggembirakan. Hal ini ditandai dengan produksi kelapa sawit yang meningkat secara konsisten dari tahun ke tahun.

 

Namun demikian, luas areal dan produksi yang meningkat belum diikuti oleh kekuatan posisi petani perkebunan rakyat dalam mempengaruhi harga Tandan Buah Segar (TBS). Salah satu masalah yang belum dapat diatasi secara tuntas adalah penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS). Ada perbedaan antara harga TBS yang ditetapkan pemerintah berdasarkan Rumus Harga Pembelian dengan harga TBS yang diterima oleh petani rakyat, serta ada perbedaaan antara indeks proporsi (K) yang ditetapkan pemerintah berdasarkan Rumus Harga Pembelian dengan indeks proporsi (K) yang diterima oleh petani rakyat.

 

  1. Kekurangan Bahan Baku TBS

Sub sektor perkebunan sebagai salah satu bagian dari pertanian dalam arti luas dan merupakan komponen utama yang penting dalam perekonomian Indonesia. Hasil-hasil perkebunan yang selama ini telah menjadi komoditas ekspor antara lain adalah kelapa sawit. Tingginya permintaan minyak kelapa sawit tercermin dari meningkatnya konsumsi minyak sawit dunia. Bahan baku TBS merupakan salah satu faktor penting dalam kegiatan industri. Pabrik pengolahan sering mengalami kekurangan bahan baku dalam memenuhi kapasitas produksi untuk memaksimalkan keuntungan perusahaan.

 

Saat ini produksi dari seluruh PKS di Indonesia hanya mampu memasok TBS sebesar 60-70% persen dari kapasitas pabrik kelapa sawit (PKS). Oleh sebab itu perlu dilakukan kegiatan optimalisasi pengadaan TBS untuk mencapai keuntungan optimal PKS dengan memanfaatkan sumberdaya-sumberdaya yang dimiliki, termasuk mencari sumber-sumber bahan baku dari luar perusahaan inti melalui pembelian TBS pihak ketiga.

 

Hal ini bertujuan untuk menganalisis tingkat produksi CPO dan PKO yang memberikan keuntungan maksimal dengan pemanfaatan sumberdaya yang terbatas dan mengidentifikasi tingkat pengadaan optimal TBS dalam memproduksi CPO dan PKO untuk mencapai keuntungan maksimum. Sumberdaya yang menjadi kendala adalah kapasitas maksimal pabrik, ketersediaan TBS pembelian, kuota batasan pembelian dan persaingan dengan pihak kompetitor untuk mendapatkan TBS pihak ketiga.

 

Hasil optimalisasi keadaan aktual menyatakan bahwa keuntungan aktual masih belum tercapai, keuntungan saat ini hanya sebesar 72 persen dari keuntungan optimal. Pada keadaan ini masih terdapat sumberdaya-sumberdaya yang mengalami kelebihan sehingga mengakibatkan pemborosan sumber daya dan energi dan kapasitas pabrik yang digunakan hanya rata-rata mencapai 68 persen,