Nestapa Petani di Kala Lebaran

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Hari Raya Lebaran adalah momen menggembirakan bagi rakyat Indonesia terutama umat muslim. Tetapi, cerita berbeda datang dari petani sawit. Jelang lebaran setiap tahun, harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit yang diterima petani seringkali anjlok dari bulan-bulan sebelumnya.

“Selalu jelang hari besar seperti Lebaran, natalan akhir tahun dan hari besar lainnya, harga TBS selalu turun dan anjlok khususnya petani swadaya. Turunnya harga melampaui ambang normal, ” ujar Gulat ME Manurung, Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO).

Di Kabupaten Aceh Barat Daya, harga TBS petani di wilayah Kecamatan Kuala Batee dan Babahrot rerata Rp 670 sampai Rp 720 per kilogram (kg) per 23 Mei 2019.

Turunnya harga TBS petani juga terjadi di wilayah Sumatera Utara seperti Mandailing Natal, Padang Lawas, Langkat, Labuhan Batu, Deli Serdang. Harga yang diterima petani sehari sebelum lebaran masih di bawah Rp1.000 per kilogram.

Merujuk data APKASINDO di 22 provinsi dan 116 kabupaten perwakilan Apkasindo di seluruh Indonesia diketahui bahwa harga TBS petani di kawasan Pulau Sumatera sekira Rp 850- Rp 1020 per kilogram jika petani langsung menjual ke pabrik sawit. Tetapi kalau menjual ke pedagang pengumpul sudah mencapai Rp 700-Rp 850/Kg TBS.

Harga TBS yang diterima petani di kawasan Indonesia Timur seperti Sulawesi dan Kalimantan lebih buruk lagi. Di tingkat pabrik, petani menerima harga antara Rp 750-Rp 900 per kilogram. Sedangkan, harga pedagang pengumpul jauh lebih rendah lagi di kisaran Rp 550-Rp 650 per kilogram. Inipun belum termasuk potongan wajib antara 5%-12% per kilogram TBS Petani.

Tolen Ketaren, petani sawit asal Sumatera Utara, mengakui harga TBS yang diterimanya hanya Rp 700 per kilogram pada 29 Mei kemarin. “Dalam sejarahnya belum pernah harga TBS stabil apalagi naik menjelang lebaran. Sepertinya ini ambil untung dari pabrik karena petani mau tidak mau harus jual karena kebutuhan lebaran,” ujarnya.

Gulat menyebutkan petani sawit sudah sangat menderita, tidak sanggup lagi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi di masa Lebaran pasti semakin mengerikan, karena kebutuhan Lebaran pasti meningkat dua kali lipat. Merujuk ldata perdagangan ekspor CPO dan Konsumsi CPO dalam Negeri maka tidak wajar penurunan harga TBS petani ini. Sebab, 42% dari luas perkebunan sawit di Indonesia di bawah pengelolaan petani.

Gulat Manurung menyatakan DPP APKASINDO berharap pemerintah mempercepat pengaturan tata niaga TBS petani sawit yang sifatnya mengikat dan berdampak hukum pidana.

Menurutnya penurunan harga petani swadaya lebih parah dibandingkan dengan petani plasma. Penurunan harga TBS petani plasma masih diambang wajar karena turun kisaran Rp50-60per kilogram dari harga ketetapan pemerintah daerah. Sementara itu, tapi jika Petani Swadaya/Pekebun harga TBS petani swadaya anjlok sampai Rp. 300-Rp 500 per kilogram.

Dari diskusi diantara anggota Apkasindo melalui grup WhatsApp yang tersebar di 22 Propinsi diketahui bahwa turunnya harga TBS kelapa sawit jelang hari raya Lebaran diduga merupakan permainan pabrik kelapa sawit (PKS).  Sebab pengusaha PKS banyak mengeluarkan ‘THR’ menjelang hari raya.

“Pengusaha tak mau rugi, biaya yang dikeluarkan untuk ‘THR’ dibebankan menjadi biaya produksi. Beban tersebut ditanggung oleh petani khususnya petani swadaya dengan cara menekan harga beli TBS petani sawit,” jelasnya.

Ia memperkirakan harga TBS kelapa sawit semakin terjun bebas sampai beberapa hari pasca Hari Raya Idul Fitri 1440 H. “Masalah ini sudah menjadi lagu lama yang tak kunjung ada solusi. Sedangkan petani tidak ada pilihan lain kecuali menjual TBS kelapa sawit yang baru dipanen dengan harga murah,” ujarnya.

Dampak penurunan harga sangat drastis mengakibatkan banyak kebun milik petani yang terlantar, bahkan ada yang tidak dipanen, khususnya kebun lokasi medan yang berat.

Gulat Manurung menyatakan DPP APKASINDO berharap pemerintah mempercepat pengaturan tata niaga TBS petani sawit yang sifatnya mengikat dan berdampak hukum pidana. Jika ada penipuan terutama kalau pabrik tidak mengikuti aturan pemerintah terkait persoalan harga, ini berarti dapat dilakukan penindakan.

Dedi Djunaedi, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Kementerian Pertanian RI, belum dapat memberikan jawaban masalah penurunan harga TBS petani di saat Lebaran. “Perlu saya cek dulu data time series (harga) dibandingkan periode Idul Fitri year on year,” pungkasnya.

5 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like