JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Pertumbuhan minyak nabati dunia menjadi sorotan negara-negara produsen sawit seperti Indonesia dan Malaysia. Dewan Negara-negara Produsen Minyak Sawit atau Council of Palm Oil Producing (CPOPC) bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia, Malaysia, Filipina, dan International Coconut Community (ICC) menyelenggarakan acara pendukung selama pelaksanaan Pertemuan Tingkat Tinggi Forum Politik Dewan Sosial dan Ekonomi Perserikatan Bangsa-bangsa atau United Nations Economic and Social Counsil (UN ECOSOC).

Acara pendukung diantaranya berupa sebuah webinar yang diselenggarakan pada 11 Juni 2022. Pelaksanaan webinar juga untuk memperkenalkan Prinsip-prinsip Kerangka Global untuk Kelapa Sawit Berkelanjutan atau Global Framework of Principles for Sustainable Palm Oil (GFP-SPO).

Webinar dihadiri oleh Menteri Koordinator Perekonomian RI Airlangga Hartarto dan Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditi Malaysia Datuk Zuraida Kamaruddin. Webinar menampilkan para pembicara dari Pemerintah Indonesia dan Malaysia, badan PBB, perwakilan petani dari Filipina dan ICC.

Melalui sambutan kunci, kedua Menteri menyorot kenaikan permintaan minyak nabati dunia dan pentingnya memenuhi standar-standar keberlanjutan global. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pasar global untuk minyak nabati dunia diperkirakan akan naik dari 199,1 juta metrik ton di tahun 2020 menjadi 258,4 juta metrik ton di tahun 2026 dengan memperhitungkan pertumbuhan populasi dunia dan luasnya penggunaan minyak nabati di berbagai industri. Oleh karena itu, sangat hal penting untuk memastikan kesinambungan pasokan ke pasar global untuk mencegah volatilitas dan guncangan harga yang mempengaruhi ekonomi global.

Indonesia memastikan komoditas agrikultur termasuk minyak nabati untuk memenuhi standar keberlanjutan global. Berkaitan dengan hal tersebut, usaha bersama untuk memastikan keberlanjutan di pasar minyak nabati dunia harus dijalankan melalui tata cara yang holistik dan tanpa diskriminasi. Lebih lanjut, usaha tersebut perlu mempertimbangkan kesepakatan internasional seperti UN SDGs 2030 dan Perjanjian Paris.

Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditi Malaysia Datuk Zuraida Kamaruddin menekankan bahwa GFP-SPO dapat dipakai sebuah acuan bersama yang melintasi berbagai skema keberlanjutan terutama yang diterapkan pada produksi minyak sawit dengan mengacu pada UN SDGs sebagai dasarnya.

Walaupun GFP-SPO dikembangkan melalui lensa minyak sawit untuk mengukur kontribusi minyak sawit dalam mencapai pembangunan berkelanjutan, kerangka tersebut juga dapat dipakai sebagai referensi keberlanjutan untuk berbagai jenis minyak nabati seperti kedelai, rapa, bunga matahari, dan yang lainnya. Oleh karena itu, sangat diharapkan ECOSOC HLPF untuk mengakui GFP-SPO sebagai satu langkah maju dalam menerima minyak sawit sebagai minyak nabati berkelanjutan yang sejalan dengan prinsip-prinsip SDGs.

Direktur Eksekutif CPOPC Dr. Rizal Affandi Lukman menyampaikan dalam sambutan penutupnya bahwa hal yang utama adalah memastikan produsen dan konsumen minyak sawit seperti juga pemangku kepentingan lainnya benar-benar memahami pentingnya dampak sosial ekonomi sektor minyak sawit terhadap keberlanjutan dan pembangunan masyarakat. CPOPC berharap kerangka (GFP- SPO) dapat secara global dipertimbangkan sebagai fondasi pembentukan keberlanjutan dari platform minyak nabati. CPOPC senantiasa siap untuk terlibat dalam mewujudkan komitmen pembangunan berkelanjutan dunia.
Acara ini juga dilengkapi dengan pameran virtual yang berlangsung pada 11 – 15 Juli 2022 dimana 24 peserta pameran merupakan para pemangku kepentingan minyak nabati di negara produsen yang menampilkan praktik-praktik terbaik dan pengalaman mendukung SDGs.

Share.