Musim Mas Dampingi Petani Remajakan Tanaman Sawit

Musim Mas Grup, kelompok usaha sawit terintegrasi dari hulu sampai hilir, membantu petani sawit yang tergabung dalam Koperasi  Maju Lancar Mandiri Labuhanbatu di Rantau Parapat, Sumatera Utara dalam rangka kegiatan peremajaan (replanting) tanaman sawit yang berusia tua. Dukungan ini diberikan dalam bentuk pelatihan, pendampingan kegiatan operasional, dan mempermudah akses pembiayaan petani.

Kegiatan peremajaan ini diresmikan dalam acara Launching Penanaman Perdana Program Peremajaan Kebun Kelapa Sawit Petani Swadaya, di lingkungan  Sidodadi PNK Kelurahan Pulo Padang, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, Kamis (16 Mei 2019). Yang hadir dalam acara ini antara lain Plt. Bupati Labuhanbatu, Andi Suhaimi Dalimunthe, Robert Nicholls, General Manager  of Smallholders Programmes and Projects Musim  Mas, perwakilan BPDP (Badan Pengelola Dana Perkebunan) Kelapa Sawit, Bank Negara Indonesia (BNI), petani, dan aparat pemerintah setempat.

Koperasi  Maju Lancar Mandiri Labuhanbatu menjalin kerjasama dengan PT Siringo-Ringo, anak usaha  Musim Mas, yang berfungsi sebagai “Bapak Angkat” dalam kegiatan replanting. Kegiatan pendampingan meliputi  pembinaan pengelolaan administrasi perkoperasian, penyiapan lahan, penggunaan bibit kelapa sawit unggul, manajemen budidaya sawit terbaik dan berkelanjutan. Tujuannya, para petani dapat memperoleh produktivitas sawit rakyat lebih tinggi dari sebelum diremajakan.

Plt. Bupati Labuhanbatu, Andi Suhaimi Dalimunthe mengapresiasi inisiatif Musim Mas untuk  mensosialisasikan kepada masyarakat berkaitan program peremajaan sawit rakyat. “Ini baru langkah  perdana. Semoga petani lain bisa mengikuti program-program seperti ini. Ini perlu disosialisasikan,” katanya.

Menurut Andi Suhaimi, program peremajaan Kelapa sawit petani Swadaya ini sangat membantu masyarakat dan dapat mempermudah masyarakat dalam meningkatkan hasil pertanian serta perawatan dalam pengelolahan pertanian dan juga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat Labuhanbatu terutama petani kelapa sawit.

Robert Nicholls, General Manager  of Smallholders Programmes and Projects Musim  Mas, menjelaskan bahwa kegiatan replanting telah dipersiapkan  sekitar 1,5 tahun lalu tepatnya Oktober 2017. Program ini melibatkan petani swadaya berjumlah 21 orang. Dengan luas lahan diremajakan 58,57 hektare dengan umur tanaman rata-rata 25-32 tahun.

Untuk replanting ini BPBP-KS memberikan dana hibah sebesar Rp 25 juta per hektar. Maksimal lahan yang menerima dana adalah 4 hektar. Menurut Robert, dana yang diberikan  BPDP-KS akan digunakan untuk menunjang tahap peremajaan termasuk biaya pembersihan lahan memakai  excavator dan  membeli bibit untuk penanaman baru. Selain membantu aspek agronomi, Musim Mas juga mendukung penghasilan petani di saat mereka menunggu hasil panen lebih kurang 3 tahun.

Di luar BPDP-KS,  petani juga memperoleh pembiayaan replanting dari BNI. “Pihak BNI sendiri akan memberikan pinjaman kepada petani selama petani tersebut tidak memiliki kredit yang buruk ataupun masuk dalam daftar blacklist bank,” ujar Robert.

Sebelum penanaman dan kegiatan peremajaan dilakukan, Musim Mas bersama koperasi menyelesaikan urusan legalitas lahan. Setelah beres, barulah syarat legalitas dikirimkan kepada pemerintah daerah dan pusat (Dirjen Perkebunan) untuk melewati proses verifikasi. BPDP-KS akan memberikan bantuan dana setelah proses verifikasi selesai dikerjakan.

Robert menuturkan peran Musim Mas sangatlah penting karena sebagian besar petani belum memahami mekanisme pendaftaran program replanting. Selain itu, petani masih tertinggal berkaitan tata kelola kebun dan pengetahuan teknis. Disinilah Musim Mas berperan membantu petani untuk mengejar ketertinggalannya.

Keterlibatan perusahaan dalam program ini merupakan bagian komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan. Sejalan dengan komitmen keberlanjutan, dikatakan Robert, perusahaan memahami adanya kebutuhan petani dalam rangka mencapai sustainable replanting. Di Indonesia sendiri, sebagian besar lahan kelapa sawit dimiliki oleh petani sehingga sangat penting membantu petani dalam upaya menerapkan praktek berkelanjutan terbaik yaitu No Deforestation, No Peat dan No Exploitation.

7 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like