Minyak Goreng Padat Alternatif Kurangi Makanan Berminyak

Bagi ibu rumah tangga, minyak goreng padat belum banyak dikenal. Padahal, minyak goreng jenis ini tidak mudah  teroksidasi dan tidak berminyak di makanan.

Bagi ibu rumah tangga, minyak goreng cair lebih banyak digunakan untuk menggoreng makanan. Tetapi, minyak goreng tidak sebatas minyak goreng cair. Adapula minyak goreng padat yang ternyata dapat dipakai berulang kali.

Fajar Marhaendra, R&D and Product Application Manager Apical Marunda, menjelaskan bahwa  minyak goreng padat adalah lemak untuk menggoreng yang bersifat padat pada suhu ruang dan digunakan untuk menggoreng secara terendam (bahan yang digoreng harus terendam semua dalam minyak padat).

“Masih banyak ibu rumah tangga yang memilih minyak goreng cair saat membuat donat atau ayam goreng. Ini tidak salah, tetapi kurang tepat saja. Lebih baik memakai minyak goreng padat,” jelas Fajar.  Biasanya, selesai menggoreng apabila memakai minyak goreng cair masih terbawa minyaknya di makana. Tetapi ini tidak terjadi di minyak goreng padat.

Lalu apa yang membedakan  minyak goreng padat dan minyak goreng cair? Pertama,  tekstur bersifat keras dan padat pada temperatur ruang, setelah dipanaskan akan mencair/meleleh dan selanjutnya bisa untuk menggoreng.

Baca Juga :   Tuntut Transparansi, Asosiasi Petani Sawit Minta Pungutan BOTL Dievaluasi

Kedua, aroma/rasa, hasilnya tidak beraroma dan tidak berasa (bland). Ketiga, minyak goreng padat dapat digunakan berulang kali. Minyak goreng padat lebih tepat untuk menggoreng secara terendam sehingga mendapatkan hasil gorengan yang renyah. Hasil gorengan tidak berminyak, bisa digunakan untuk menggoreng berulang kali (25 kali).

“Cocok sekali memakai minyak goreng padat  untuk menggoreng fried chicken, donat. Restoran besar dan industri makanan menjadi konsumen produk kami,” tutur Fajar.

Selanjutnya, keunggulan minyak goreng padat dibanding minyak goreng cair. Fajar menjelasakan bahwa  minyak goreng padat ini sangat tepat menggoreng makanan yang crispy seperti donat, fried chicken, kentang dengan hasil goreng yang renyah dan tidak berminyak. Lalu, tipe minyak goreng ini memiliki smoke point/titik asap lebih tinggi (+- 240 deg C).  Selain itu, minyak goreng ini  tahan dari kerusakan (tidak mudah teroksidasi).

“Tekstur makanan hasil gorengan dengan minyak goreng padat akan lebih renyah, tidak berminyak, matang lebih merata,” jelasnya.

Baca Juga :   Bukannya Membantu, NGO Politisir Kebakaran Hutan

Fajar menyebutkan  minyak goreng padat tidak umum menggunakan istilah titik didih. Umumnya dinyatakan sebagai titik leleh/melting point dan titik asap/smoke point (melting point/titik leleh +- 41 deg C, smoke point/titik asap +- 240 deg C).

Diakui Fajar,  minyak goreng padat sudah umum digunakan di rumahan, HORECA, maupun industri. Jika menginginkan hasil yang terbaik untuk menggoreng fried chicken ataupun donat maka harus menggunakan minyak goreng padat, bukan minyak goreng cair.

Dari segi proses, dikatakan Fajar, minyak goreng padat diolah dengan menggunakan bahan baku minyak sawit pilihan yang dikontrol secara teliti oleh bagian produksi dan QC dengan mengatur campuran/komposisi di melting point +- 41 deg C. Setelah campuran didapatkan, dilanjutkan ke proses pembentukan tekstur di mesin teksturisasi dengan suhu rendah. Setelah itu dikemas dalam kemasan carton 15 kilogram. Minyak goreng padat yang sudah lolos uji QC dan QA siap untuk dipasarkan.

Baca Juga :   Produk Bersertifikat ISPO Dapat Digunakan Dalam Olimpiade Tokyo 2020

Sehat dan bebas asam lemak trans

Dalam literatur ilmiah, kelapa sawit adalah minyak nabati yang paling efisien dan tinggi produktivitasnya. Keunggulan ini tidak perlu diperdebatkan lagi.  Begitupula dari aspek kesehatan, minyak sawit tidak mengandung asam lemak trans (trans fatty acid) yang merugikan kesehatan manusia.

“Minyak sawit bebas trans fatty acid atau asam lemak trans. Dibandingkna minyak nabati lain, sawit lebih bagus karena kandungan lemak yang seimbang antara asam lemak tak jenuh dan asam lemak jenuh,” kata GM Apical Marunda, Lim Teck Guan saat menjadi pembicara dalam diskusi webinar “Sehat Bersama Minyak Kelapa Sawit”, Rabu (17 Juni 2020).

Ia mengatakan banyak negara sudah melarang konsumsi minyak nabati yang mengandung asam lemak trans. Termasuk, World Health Organisations (WHO) yang akan melarang asam lemak trans pada 2023. Ini berarti, minyak sawit berpeluang mengisi kebutuhan masyarakat dunia. Disinilah, masyarakat belum mengetahui sebenarnya keuntungan dari minyak kelapa sawit bagi kesehatan.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 104)

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like