JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Kenaikan harga minyak goreng membuat emak-emak bingung mengatur keuangan. Pasalnya minyak goreng telah menjadi kebutuhan pokok sehari-hari.

Indonesia beruntung Presiden Joko Widodo bergerak cepat menginstruksikan kepada Menko Perekonomian dan Menteri Perdagangan untuk meredam lonjakan harga minyak goreng.

Kebijakan penyaluran minyak goreng murah sebanyak 1,2 miliar liter telah diputuskan pemerintah. Nantinya, minyak goreng kemasan sederhana akan dinikmati oleh masyarakat menengah kebawah. Harga yang disepakati yaitu Rp14.000/liter.

Sumber anggaran minyak goreng murah dari dana sawit sebesar Rp 3,6 Triliun yang dikelola BPDPKS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit).

Menanggapi hal tersebut Perawati mewakili ibu-ibu ketika dihubungi oleh awak media, mengucapkan terimakasih kepada Presiden Jokowi terkhusus kepada petani sawit yang telah menyumbang dana sawit yang dikumpulkan oleh BPDPKS.

“Saya sangat terharu atas kebijakan pemerintah dalam mencari solusi kisruh harga minyak goreng ini. Sebagai ibu rumah tangga sangat merasakan dampak dari tingginya harga minyak goreng ini, tapi dengan adanya subsidi dari dana BPDPKS ini saya sangat terbantu dan bersyukur tentu demikian juga Emak-Emak seluruh Indonesia, ” kata Perawati.

Ia secara khusus mengucapkan terimakasih kepada Bapak Presiden dan para petani sawit dan berdoa akan kesehatan Pak Presiden dan tentunya pahlawan petani sawit Indonesia.

Ketika hal ini dikonfirmasi ke Ketua Umum DPP APKASINDO (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia), Dr. Gulat Manurung, MP.,C.APO.,C.IMA, membenarkan informasi tersebut. Menurutnya, Rino Afrino selaku Sekjen DPP APKASINDO, sudah memberikan laporan hasil rapat dengan Kemenko Ekonomi, Kementan, GAPKI, dan BPDPKS.

“Jadi, Bang Rino ini mewakili petani sawit dan duduk sebagai anggota Komite Pengarah) BPDPKS,” cerita Gulat.

Gulat menuturkan, bahwa subsidi tersebut tidak berlaku untuk minyak goreng kemasan mahal (premium) yang dipasarkan di toko ritel dan supermarket. Subsidi ini hanya berlaku kepada minyak goreng kemasan sederhana. Jadi, produk ini paling penting karena serapan masyarakat menengah ke bawah sekitar 20% dari total kebutuhan nasional.

“Subsidi ini berlaku sampai 6 bulan mendatang. Tentunya usulan APKASINDO nomor 1 sampai 4 dapat diselesaikan rentang 6 bulan tersebut, sehingga ke depannya tanpa dukungan  harga minyak goreng tetap stabil dan terjangkau,” harapnya.

Ketika ditanya apa hubungan petani sawit dengan insentif minyak goreng? Gulat menjelaskan, sama halnya dengan Bio-Solar (B30) yang dijual di SPBU seluruh Indonesia yang didukung petani sawit. Dukungan ini berasal dari sumbangan petani sawit seluruh Indonesia rerata Rp.162-Rp.210/kg TBS, yang dilakukan melalui proses Pungutan Eksport CPO (PE). Selanjutnya, pengelolaan dana dilakukan oleh BPDPKS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit) dan pemanfaatan dana ini diatur dalam Perpres 66 Tahun 2018.

“Petani sawit memang keren. Kami tetap berkontribusi bagi perekonomian Indonesia,” tutup Gulat.

Share.

Leave A Reply