MENANAM KELAPA SAWIT BUDAYA LOKAL DAN SENJATA PERANG PROKSI (Bagian Pertama) Oleh : Dr.BedjoSantoso, MSi*

Sejak dahulu kala bangsa Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena sebahagian besar masyarakatnya menganggantungkan diri dalam mata pencaharian pertanian atau tanam-menanam.  Meski pun akhir-akhir ini Indonesia telah memproklamirkan diri sebagai poros maritim dunia, tetapi sebutan negara agraris pun tetap lekang tidak termakan jargon maritim tersebut. Pertanian Indonesia tetap menjadi andalan dalam menggerakan roda kehidupan, sebab pertanian telah menjadi budaya lokal bangsa Indonesia.

Budaya pertanian dimana pun dicirikan adanya petani, lahan, alat, dan manajemen yang berbeda budaya yang lain. Di Indonesia budaya pertanian merupakan kearifan lokal yang berupa cocok tanam komoditi padi, kacang, jagung, kedelai, karet, pala, kelapa, durian, manga, cengkih, termasuk menanam pohon-pohonan.  Tidak semua komoditi tersebut berasal dari Indonesia melainkan dari negara/wilayah lain, misalnya kedelai Indonesia berasal dari wilayah sub tropik Asia yaitu China dan Jepang, karet Indonesia berasal dari Brasilia, kacang tanah dari Siam, kacang polong dari Amerika dan sebagainya. Demikian pula pohon albizia dari madagaskar, pohon mahoni dari India dan lain sebagainya. Sehingga saat ini yang disebut banyak orang tanaman lokal sebenarnya bukan asli Indonesia.  Hal ini juga terhadap tanaman kelapa sawit  yang menjadi pokok bahasan ini berasal dari Afrika Tengah yang di bawa oleh botanis Belanda tahun 1848 yang telah berkembang sedemikian rupa di kalangan masyarakat Indonesia sehingga saat ini telah menjadi bagian kehidupannya.

Baca Juga :   Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 100 Tahun NKRI Membangun Kemandirian Ekonomi Dan Pangan Secara Berkelanjutan (Bagian LIX)

Apakah tepat penanaman kelapa sawit bukan budaya lokal Indonesia ?

Menteri  BKPM RI Kabinet Kerja jilid -2 Bahlil Lahadalia saat memberi sambutan pada acara Peluncuran buku Prof. Dr. Arief Satria Rektor IPB pada tanggal 7 Maret 2020 di IPB Convension Centre Baranangsiang Bogor, di depan ribuan peserta dengan lantang menyatakan bahwa menanam kelapa sawit bukan kearifan lokal, contoh kearifan lokal adalah menanam pala, durian, cengkih dan lain.  Sehingga penanaman sawit akan dimoratorium oleh Pemerintah.  Lebih lanjut Bahlil menantang hadirin untuk mengembangkan tanaman lokal secara besar-besaran sebagai pengembangan kearifan lokal.

Kenyataan yang dialami oleh Negara Indonesia dan juga masyarakat petani/pekebun saat ini, bahwa sawit telah menjadi tulang punggung perekonomian nasional, sawit telah mensejahterakan masyarakat, tanaman sawit Indonesia juga ramah lingkungan, dan produk sawit menjadi sumber pangan dan energi saat ini mau pun masa mendatang. Apakah kita bangsa Indonesia yang berdaulat rela tulang punggungnya digerogoti oleh bangsanya sendiri ? Apakah kita sadar bahwa issue negative terhadap kelapa sawit hanya politik dagang dan perang proksi?Apakah kemampuan masyarakat bangsa Indonesia dalam mengelola kelapa sawit telah menjadi bagian kehidupanya bukan kearifan lokal ?.  Mari kita bahas berikut ini.

Baca Juga :   ANJ Proyeksikan Produksi CPO Tumbuh 20,19%

 Kelapa Sawit Tulang Punggung Indonesia

Kelapa sawit (Elaeisguinensis– Jack) berasal dari dalam kawasan hutan alam di Nigeria – Afrika Barat dan Kongo – Afrika Tengah, didatangkan ke Indonesia oleh botanist Belanda pada tahun 1848. Berawal dari beberapa biji ditanam di Kebun Raya Bogor, selanjutnya dikembangkan penanamannya mulai tahun 1870-an sebagai usaha perkebunan di Sumatera Utara. Pada saat yang bersamaan meningkatlah permintaan minyak nabati akibat Revolusi Industri pertengahan abad ke-19. Sehingga pada awal abad 20 persisnya 2019 yang lalu, luas tanaman kelapa sawit di Indonesia + 16 jutahektar ( terluas di dunia), juga  dengan produksi sebanyak 47 juta ton per tahun (terbesar di dunia)  yang mampu memberikan devisa bagi Negara sebesar + 300 triliun rupiah ( sumbangan terbesar bagi perekonomian nasional yang APBN-nya 2000 triliun rupiah).

Pada tahun 2024  diperkirakan luas kelapa sawit Indonesia akan mencapai lebih dari 17.5 juta ha. Dengan potensi kelapa sawit tersebut Indonesia akan mampu memproduksi minyak nabati tidak kurang dari 60 juta ton per tahun (40 % pangsa global). Sehingga dengan asumsi harga seperti saat ini maka devisa Negara Indonesia dari produk kelapa sawit tidak kurang dari 400 triliun rupiah (20% dari APBN tahun 2019). Kondisi demikian Indonesia akan sulit disaingi oleh negara mana pun dalam urusan produksi mau pun nilai penjualan minyak nabati  dunia, seperti produksi minyak kedelai Amerika Serikat sebesar 24 juta ton/tahun yang ditanaman pada sekitar 50 juta ha.

Baca Juga :   Peta Sawit 2019 Berubah: Konsumsi Domestik CPO Melonjak

Kondisi demikian secara langsung mau pun tidak langsung meningkatkan daya saing Indonesia. Apa lagi produk kelapa sawit adalah multiuse produk yang sulit digantikan dengan produk lainnya, maka produk tersebut akan diperlukan oleh masyarakat kapan pun dan dimana pun.  Oleh karena itu dengan modal mengelola potensi kelapa sawit secara berkelanjutan baik di lahan perkebunan mau pun di lahan hutan (melalui pembangunan ekosisten hutan tanaman kelapa sawit), Indonesia akan mampu bersaing dalam kancah perekonomian dunia.

(Selengkapnya dapat di baca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 103)

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like