Menakar Kebutuhan Oleokimia Untuk Industri Ban

Stearic Acid dibutuhkan sebagai bahan baku industri ban di Indonesia. Industri oleokimia domestik dapat memenuhi kebutuhan tersebut.

“Kelapa sawit adalah komoditas strategis. Tetapi tanpa ban, Anda tidak akan sampai sini (lokasi seminar),” celetuk Aziz Pane, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia.

Aziz Pane adalah salah satu pembicara di seminar dengan tema “Ragam industri Pengguna Produk Oleochemical Indonesia”, yang diadakan oleh Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN) pada  3 Juli 2019 di Jakarta.

Menurut Aziz, hampir semua mobilisasi manusia di dunia yang menggunakan kendaraan (mobil) dilengkapi dengan roda ban. Artinya, ban merupakan komponen penting dan mempunyai peran besar dalam kehidupan manusia terutama dalam kelengkapan kendaraan.

Secara kasat mata, produsen ban memang secara langsung tidak ada hubungannya dengan industri sawit. Tetapi, jika melihat komposisi pembuatan ban yang terbentuk dari karet alam membutuhkan Stearic Acid sebagai salah satu campurannya. Stearic Acid adalah produk yang dihasilkan dari pengembangan hasil olahan kelapa sawit di antaranya produk-produk oleokimia seperti Stearic Acid, Fatty Acid, Fatty Alkohol, glycerine, metalic soap, methyl ester dan stearin.

Karet adalah polimer hidrokarbon yang terbentuk dari emulsi kesusuan (dikenal sebagai latex) yang diperoleh dari getah beberapa jenis tumbuhan pohon karet tetapi dapat juga diproduksi secara sintesis. Sementara compound adalah karet mentah yang dicampur dengan bahan baku kimia seperti filler, processing oil, accelerator dan sebagainya dengan menggunakan mesing giling karet, dipanaskan pada temperatur dan waktu tertentu sehingga berubah menjadi barang jadi karet yang bersifat permanen.

Baca Juga :   Kebijakan Nasional dalam Industri Sawit Menuju Ekonomi Indonesia pada Urutan 10 Besar Dunia (Bagian I)

Di perusahaan ban berbahan dasar karet mentah, karet diolah menjadi compound yang memerlukan bahan utama lain seperti karet sintesis dan carbon black dengan rasio sekitar 90% dari keseluruhan berat compound. Selain itu, juga membutuhkan bahan-bahan lain yaitu Nillon Type Cord, Stearic Acid, Big Wayer, Sulfur, Rubber, Chemical dan Zink Acid.

100% Kebutuhan Stearic Acid  

Terkait dengan bahan baku pembuatan ban, Aziz mengatakan perusahaan ban di Indonesia pada 2018 membutuhkan Stearic Acid sebanyak 20.100 ton. Bahan baku ini sepenuhnya dapat dipasok industri oleokimia domestik. Tetapi, 75% karet sintesis masih impor, 68% Carbon Black juga masih impor. “Untuk memajukan industri ban dalam negeri, diperlukan penyediaan bahan baku utama dan bahan pendukung yang lain diproduksi dengan harga yang lebih murah,” kata Aziz.

Baca Juga :   Kelapa Sawit Sudah Terbukti Ramah Lingkungan

Sulit dipungkiri, selain sawit sebagai komoditas unggulan yang dimiliki Indonesia. Karet juga termasuk komoditas bernilai ekonomi tinggi yang ada di Indonesia. Bahkan Indonesia sebagai produsen karet kedua terbesar setelah Thailand. Total areal perkebunan karet mencapai 3,6 juta hektar dengan total produksi berkisar 3,1 juta ton

Besarnya produksi karet tentu akan mendorong perkembangan produk olahan dari karet. Salah satu produk yang sangat berkembang di Indonesia yaitu Ban. Industri ban menggunakan bahan baku karet alam dan juga karet sintesis dengan kandungan karet alam sekitar 30-40% dan karet sintesis 60-70% dalam produk ban.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia Edisi 93, 15 Juli- 15 Agustus 2019)

Baca Juga :   Kunci Sukses Mendapatkan Benih Sawit Unggul Investasi Yang Sering Terlupakan (Bagian XXXVI)
4 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like