Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian XXXI)

Saya melihat pentingnya peran Greenpeace untuk menjaga keseimbangan. Perusahaan perkebunan juga penting untuk menghidupi orang banyak. Dalam hidup ini semua harus seimbang. Kita tidak bisa melarang satu hal dan membiarkan hal lain terjadi. Prinsip jalan tengah itulah yang saya terus pegang dalam setiap pertemuan dengan berbagai lembaga yang bergerak dalam bidang lingkungan, tak kecuali Greenpeace.

Pertemuan dengan Greenpeace bukan terjadi sekali itu saja. Pada tahun 2007, di Hotel Borobudur, Jakarta, saya kembali diundang untuk datang dalam acara yang digelar oleh Greenpeace. Pada awalnya saya menolak undangan mereka karena dalam undangan disebutkan bahwa pihak pengundang akan mengumumkan moratorium penebangan hutan dan saya diminta untuk mendukungnya.

Karena saya menolak undangan yang demikian? Saya kira dalam alam demokrasi ini bukan merupakan langkah yang baik jika suatu pihak memaksakan sesuatu untuk disepakati begitu saja. Perlu ada dialog atau diskusi untuk mencapai sebuah keputusan tertentu. Atas alasan itulah saya meminta undangan diubah agar isinya meminta pendapat saya dalam soal moratorium yang digagas oleh pihak Greenpeace itu. Setelah surat undangan diubah, saya pun menghadiri acara.

Sumber : Derom Bangun

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like