Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian XXVIII)

Dalam beberapa kesempatan saya juga jelaskan satu hal yang praktis. Kalau kita ke kota-kota besar di negara maju, terutama tengah malam kita meliat ada banyak orang tunawisma ynga membuat api tungku untuk memanaskan badanya. Mengapa mereka tidak dilarang? Karena kalau dilaran merekan akan mati kedinginan. Saya membandingkan keadaan di Indonesia dan menghubungkan semua ini dengan peratuaran internasional yang disepakati bersama, seperti Protokol Kyoto. Protokol Kyotomemberikan target kepada negara, tetapi setiap negara punya kebebasan memilih, sektor mana yang akan dipilih sebagai upaya meredukasi buangan emisi gas rumah kaca. Ada kedaulatan pada setiap negara.

Saya katakan kepada mereka, sama seperti warga tunawisma yang membuat api di,alam hari, di Indonesia banyak orang yang akan susah jika penanaman sawit dihentikan. Bagaimana nasib petani sawit yang mengandalkan hidupnya pada panen sawit. Bagaimana nasib anak-anak mereka yang harus mengenyam pendidikan? Sementara itu, kritik yang diarahkankepada perusahaan perkebunan saya jawab dengan menanyakan bagaimana nasib para pegawai perkebunan yang berjumlah ribuan orang? Dimana lagi mereka mencari makan dan menghidupi keluargannya?

Sumber : Derom Bangun

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like