Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian XXVII)

Kita melihat itu, ada kebutuhan makanan, ada kebutuhan bahan bakar. Kedua-duanya sama-sama dibuthukan. Karena itu, sebenarnya memang sekarang salah satu tugas diantara pemerintah dan masyarakat, mengurangi pemakaian energi. Pada akhirnya, kedua-duanya harus dipenuhi. Tidak bisa dielakan, sebagian akandipakai untuk bahan bakar, sebagian untuk pangan. Tanpa dipakai untuk bahan bakarpun pangan ini agak kurang, karena itu harganya pasti akan naik. Mengenai perimbangan berapa persen kepangan berapa persen kebahan bakar, itu akan ditentukan oleh perimbangan harga di pasar. Jika harga BBM naik seperti tahun 2007, harga crude petroleum (minyak mentah) 100 dollar per barel, tentu saja harga pangan pun ikut naik, begitu pula sebaliknya.

Tanpa saya yang merasa dan juga memahami sendiri terkesan bahwa industri perkebunan sawit yang selalu menjadi kambing hitam atas semua kekacauan itu. Padahal, selain minyak sawit, ada banyak komoditas minyak nabati lainnya, seperti minyak kedelai, kanola, dan minyak bunga matahari, yang juga digunakan sama banyaknya seperti minyak sawit. Di Eropa pemakaian minyak sawit untuk bahan bakar sudah distop. Tapi di Jerman pemakaian minyak kanola sekitar tiga sampai empat juta ton per tahun, dan sekarang terus melesat keangka lima juta ton minyak kanola yang digunakan untuk bahan bakar biodiesel.

Sumber : Derom Bangun

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like