Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian XVIII)

Namanya saja buku memoar, tentulah harus membuat urusan keluarga dan anak-anak. Secara singkat, buku ini bercerita tentang penentian yang agak lama bagi kehadiran putra pertama disusul anak kedua dan akhirnya putra bungsu sebagai anak ketiga. Bagaimana mereka mendapatkan pendidikan dari saya dan istri sampai mereka selesai menempuh pendidikan merupakan bagian yang menimbulkan rasa terharu bagi saya sendiri karena mengandung cara-cara yang bersifat keras. Karena sayang, mereka dipertangis. Berbeda kalau saya menghadapi cucu yang pada saat naskah ini ditulis sudah berjumlah emapat orang. Walau tidak ingin menjdikan mereka anak-anak yang manja, saya selalu bersifat lembut yang menimbulkan rasa iri orang tuanya.Orang tua mereka yakni anak-anak saya, iri kepada cucu saya yang menikmati hangatnya kasih sayang dari saya.

Manusia adalah subyek dalam sejarah. Ia membuat sejarahnya dan sejarah membentuk manusia itu sendiri. Dengan sadar saya tuangkan semua pengalaman saya dalam memoar ini, mulai saya sebagai seorang anak yang lahir di Kampung Payung, Tanah Karo, di era akhir kekuasaan kolonial Belanda, tumbuh pada zaman revolusi dan era Sukarno sampai dengan bergerak aktif didunia usaha sawit seperti sekarang ini.

Buku yang ditangan anda ini merupakan rekaman perjalanan hidup saya. Tentu saja ada bebrapa peristiwa yang luput dari memori sebagaimana juga mungkin nama-nama yang pernah hadir dalam kehidupan saya. Meski demikian, satu yang tak mungkin saya lupakan adalah peran istri saya, Jendamita Sembiring, yang selalu setia mendampingi saya baik dalam keadaan susah maupun senang. Kepadanya saya haturkan terimakasih yang setinggi-tingginya.

Sumber : Derom Bangun

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like