Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian XCVIX)

Saya tidak menyia-nyiakan ajakan pemerintah untuk pergi ke Rusia kendati saat itu saya punya agenda kunjungan ke London, Inggris. Rencana perjalanan adalah Moskaw, Warsawa (Polandia), Ceko dan Budapest (Hongaria). Kepada Jusuf Kalla saya sampaikan bahwa saya hanya dapat mengikuti program di Moskaw dan Warsawa karena setelah itu saya harus pergi ke London menghadiri sidang komite minyak dan lemak, Codex. Beliau juga rupanya sepakat bahwa Rusia dan Polandia yang lebih penting untuk dijadikan target pemasaran minyak sawit. Saya jelaskan, Hongaria  itu produsen besar minyak bunga matahari dan tidak mengimpor minyak sawit. Kenyataan itu saya ketahui ketika saya berkunjung ke Budapest menghadiri Congress ISAC (Internasional Association of the Seed Crushers).

Ketika kami di Moskaw, pada akhir Februari 2000, terlihat pemandangan yang sangat berbeda dengan negara tropis seperti Indonesia. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah hamparan salju seakan menyelimuti bumi. Pepohonan yang tidak berdaun semuanya putih diselimuti salju. Cuaca sangat dingin. Waktu dibandara saya dengar suhu udara minus 20drajat celsius. Keluar dari bandara, kami keluar menuju bus. Jarak dari teras bandara ke bus tidaklah begitu jauh, tetapi udara dingin yang menusuk hingga ketulang membuat kami harus berjalan terburu-buru. Baju berlapis-lapis tak mampu membendung dinginnya udara.

Pertemuan antar pengusaha dilakukan dalam sebuah forum bisnis. Setiap jenis usaha diberikan satu meja. Ada meja usaha tekstil dan produk tekstil (TPT). Saya duduk pada satu meja yang bertuliskan palm oil. Beberapa brosur sederhana mengenai produksi sawit Indonesia saya tumpahkan di pinggir menja yang berbentuk bundar itu.

Sumber : Derom Bangun

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like