Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian XCVIII)

Keesokan harinya saya disambut oleh Kepala Bagian Teknologi di Laboraturium Dr. A. Verway. Dia jelaskan bagaimana mulanya kontaminasi solar itu ditemukan. Stafnya yang bertugas mengambil sempel dari tangki kapal kaget ketika tutup tangki dibuka, ada bau sangit.

Ditunjukannya keapa saya alat GC (Gas Chromatography) yang mereka gunakan memerikasa kandungan solar. Saya pertanyakan, berapa batas yang pasti. Saya kemukakan bahwa minyak sawit  yang murni juga mengandunghidrokarbon, karena minyak sawit itu sendiri terbuat dari unsur karbon dan hidrogen.

Saya usulkan agar diperiksa contoh-contoh minyak sawit dari pengapalan sebelumnya sebagai bandingan. Saya berjanji setelah kembali ke Indonesia, saya juga akan memerikasa contoh-contoh dari beberapa pabrik untuk dibandingkan. Saya yakin, sebagian minyak sawit disegel itu masih baik. Kalau disepakati, bahwa batas aman adalah 25 ppm, maka dibawahnya tidak perlu ditolak. Saya ingat ada beberapa contoh yang hanya mengandung 17 ppm. Saya minta dibuat kesepakatan batas, berapa yang dinyatakan tercemar. Ada yang mengatakan 25 ppm. “Kalau boleh yang dibawah 25 ppm diangap tidak tercemar”, kata saya. Kelihatannya usulan ini diterima mereka jadi bahan pertimbangan.

Sumber : Derom Bangun

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like