Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian XCVII)

Saya menangkap kesan, maka menyimpulkan bahwa ini kesalahan atau kelalaian Pemerintah Indonesoa. Ini akan beresiko besar. Setelah pulang dari kantor MVO di Jalan Ampera, kepada ladjuris, dari pihak Kedutaan Besar Indonesia di Belanda saya bilang, “Kita perlu cepat memberikan aler, kepada perwakilan Indonesia di Brussel, Uni Eropa. Jangan sampai hal ini tidak terbendung”.Kami masih berunding di kantor kedubes Indonesia setelah pertemuan dengan Fediol selesai. Malam itu terasa bagi saya. Beberpa orang mulai merokok. Saya ambil satu batang sigaret milik Asep Toyib dan mulai menghisapnya. Saya bukan lagi perokok, tetapi malam itu terasa betul penatnya, apa lagi melihat sambutan dari pihak Uni Eropa yang kurang baik.

Baca Juga :   DPW APKASINDO Riau Gelar Rakerwil Untuk Menyerap Aspirasi Anggota

“Wah celaka ini kalau bos kita sudah merokok, tanda bahaya”, ujar seorang kawan menggarami keadaan malam itu. Saya hanya tersenyum. Karena sudah lama berhenti merokok, saya tidak menikmatinya dan segera saya matikan apinya di atas asbak.

Kemudian saya berunding supaya besok bisa ke laboraturium Verway dan ke Brussel. Tetapi tidak semua, beberapa orang, bahkan ada yang lansung pulang ke Indonesia. Direktur Utama PTPN III Mega Nanda pulang cepat. Sabirin pergi ke Jerman menjenguk anaknya yang kuliah di Jerman. Saya dan Ladjuris pergi ke laboraturium Verway dan ke Brussel.

Sumber : Derom Bangun

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like