Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian XCIII)

Semua persiapan selesai, kami pun berangkat ke Den Haag. Iskandar Sabirin ikut, tetapi Dirjen Kimia Industri dan Hasil Hutan Gatot Ibnusantoso tidak ikut karena ada acara lain yang penting. Ia digantikan dengan stafnya. Anggota delegasi lain terdiri dari, Direktur Utama PTPN III Mega Nanda, Dr. Asep Thoyib , Direktur Kantor Pemasaran Bersama Jakarta. PT. Tolan Tiga menugaskan orangnya dari Antwerp, Belgia, yaitu Paul Nellens untuk bergabung dengan kami di Den Haag. Pihak KPN menugaskan seorang Manager dari kator Willmar di Singapura, Teo Kim Yong.

Sebelum berangkat, wartawan menanyai saya mengenai rencana perundingan. “Saya optimis akan selesai”, jawab saya. Ruters memuat komentar seperti itu. “Kami akan usulkan cara penyelesaian yang diterima kedua belah pihak”, tambah saya. “Ada dua hal yang penting. Pertama menyelesaikan CPO yang di tahan itu dan kedua meningkatkan pengawasan mutu CPO dikapalkan.

Karena ini bisa dibilang misi negara, kami naik pesawat Garuda. Sampai di Den Haag, kami mengingap di Hotel Kurhaus. Saya pernah menginap dihotel ini tahun 1982 dengan Purba Sidadolok, Direktur Utama PTPN II, saat menghadiri konferensi oleo kimia. Terus terang, agak dramatis pula kejadian waktu itu. Begitu datang di Den Haag, kami bersiap untuk berangkat ke kantor MVO pukul empat sore. Dari Kedutaan Besar Indonesia untuk Belanda ditugaskan Ladjuris, Kepala Seksi Perekonomian, didampingi dua orang staf untuk membawa kami ke kantor MVO di Amper Laan. Di sana, kalau musim dingin, pukul lima pun sudah gelap. Matahari tengelam lebih cepat dari biasanya.

Sumber : Derom Bangun

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like