Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian LXXVII)

Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan,”Orangutan memang menarik, apa lagi mata anaknya itu. Luar biasa! Kalau dipandang matanya itu seperti orang jatuh cinta. Duni jatuh cinta kepada orangutan. Jadi, pengusaha harus ada perhatian. Saya terimaksih karena Pak Derom ketika pada konferensi sawit yang lalu mengumpulan dana dari pemain golf dan beberapa perusahaan dan membantu kami Rp. 400 juta”. Bungaran keliru sedikit. Saya menyerahkan sejumlah donasi hanya sebesar Rp. 305 juta bukan Rp. 400 juta.

Bungaran kemudian menjelaskan bahwa biaya mengurus anak orang itu besar sekali, yakni Rp. 2 juta per anak orangutan. “Setiap anak orangutan harus diberimakan, dilatih dan dirawat kalu sakit. Dilatih hidup dihutan, misalnya mengajarkan bahwa ular itu berbahaya dan harus dihindari. Harus diajar, kalau sakit harus diobati. Ada kliniknya, lebih bagus dari puskesmas!” katanya yang disambut derai tawa peserta forum.

“Jadi, yang dikumpulkan Pak Derom itu memang saya ucapkan terimakasih, tapi itu hanya peanut. Mudah-mudahan ada lgi tambahan”.  Beliau memandang kearah saya yang duduk diatas pentas tidak jauh dari podium. Pandangannya sedikit memancing tanggapan karena itu saya berseru, “Itu hanya token”. Disambut beliau, “Ya, token untuk mengerakan yang lain”.

Sumber : Derom Bangun

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like