Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian LXXIX)

Pentingnya posisi minyak nabati yang banyak dikonsumsi manusia tersebut memerlukan pengaturan yang baik sehingga kebutuhan manusia akan minyak terus bisa dipenuhi. Salah satu organisasi minyak nabati yang penting pranannya adalah AVOC atau ASEAN Vegetable Oil Club (Klub Minyak Nabati ASEAN). Organisasi ini didirikan pada tahun 1993, kebetulan saya terlibat dalam proses pendiriannya bersama Joharuddin, SE yang saat itu menjabat Ketua Umum GAPKI.

Ketika saya menjabat Ketua AVOC pada tahun 1997, Sekretariat ASEAN di Jakarta sudah mengakui dan mendaftarkan keberadaan AVOC sebagai organisasi swasta  di kawasan Asia Tenggara. Atas dasar itu,  Sekretariat Codex mengirimkan undangan kepada Sekretariat AVOC untuk menghadiri sidang pleno di Roma sebagai peninjau. Karena didalam agenda tercantum pembahasan mengenai minyak nabati termasuk minyak sawit, Sekretariat AVOC di Kuala Lumpur meneruskan undangan itu kepada saya. Setelah mendapatkan persetujuan di dalam rapat AVOC di Manila, saya berangkat menghadiri sidang di Roma.

Apa itu Codex? Nama lengkapnya adalah Codex Alimentarius Commission (CAC), dalam bahasa Inggris disebut Food Standard Program (Program Standardisasi Makanan). Karena belum ada nama resmi dalam bahasa Indonesia, saya memilih istilah “Komisi Standardisasi Makanan”. Badan ini adalah bagian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan dinaungi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang berpusat di Jenewa, Swiss, dan Organisasi Makanan dan Pertanian (FAO) yang bermarkas di Roma, Italia. Karena itu, sidang pleno CAC bisa diadakan di Roma atau di Jenewa, tetapi sekretaiatnya berada di gedung FAO di Roma.

Sumber : Derom Bangun

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like