Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian LVII)

Pada intinya, menurut saya, untuk menghadapi persoalan sawit yang berkaitan dengan persoalan lingkungan dan juga politik dagang ini diperlukan satu penangananyang holistik. Apa yang dihadapi oleh Sinar Mas tentu tidak bisa merepresentasikan kondisi industri sawit di Indonesia, tetapi anggapan yang muncul dari persoalan itu akan sangat berbahaya jika tidak segera diselesaikan. Bagaimanapun, berita yang muncul dimedia massa  acap kali bersikap reduktif, yang berkecenderungan memukul rata semua persoalan. Bisa jadi muncul anggapan di kalangan Barat bahwa kegiatan pembukaan lahan sawit di Indonesia seratus persen merusak lingkungan, padahal tidak demikian adanya. Jangan sampai seperti pepatah, gara-gara nila setitik rusak susu sebelaga. Tentu bukan itu yang  kita inginkan.

MENGHADAPI FORUM GES

Salah satu forum internasional yang pernah saya hadiri adalah GES atau Global Economic Solution yang diselengarakan di Schelswig-Holstein, tidak jauh dari Kiel, Jerman. Forum tersebut mengundang ratusan individu dari sejumlah negara termasuk institusi-institusi internasional untuk berembuk, mencari solusi terhadap masalah global yang sedang di hadapi. Rupanya industri kelapa sawit dianggap memegang peran penting dalam wacana pertentangan penggunaan minyak sawit untuk makanan atau bahan bakar. Pada forum yang sama, persolanan tersebut menjadi salah satu agenda penting yang dibahas dalam sidang, sesuai dengan tema sesinya : food versus fuel.

Peranan kelapa sawit terasa maikin penting ketika pada 2007 harga minyak sawit melonjak cepat, menimbulkan kekhawatiran para tokoh dunia tentang adanya persaingan antara kebutuhan untuk makan dan energi. Penggunaan minyak sawit sebagai bahan bakar dikhawatirkan akan menimbulkan kekurangan makanan, bahkan dikhawatirkan kelaparan di dunia.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like