Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CXXXIX)

Semakin lama, jumlah anggota bertambah banyak. Semua bermufakat untuk mengumpulkan iuran seadanya. Mula-mula iuran hanya dikenakan Rp. 1.000 per hektar. Nilai iuran itu sangat kecil jika didasarkan dengan asumsi bahwa setiap satu hekatar menghasilkan 3 ton minyak setahun dikalikan harga RP. 4.000 per kilogram, maka didapatkan angka Rp. 12 juta per tahun. Jadi GAPKI hanya mewajibkan anggotanya membayar iuran RP. 1.000 tahun dikali total jumlah luas areal perkebunan. Semisal ada anggota GAPKI memiliki 80.000 hektar lahan, maka ia wajib menyumbangkan Rp. 80 juta per tahun untuk GAPKI. Kalau hanya 200 hektar, iuran hanya Rp. 200.000 setahun. Hasil iuran yang dipaki untuk kegiatan GAPKI, termasuk membeli kantor di Medan.

GAPKI awalya berpusat di Medan, Sumatera Utara. Penempatan kantor pusat di Medan melawan kebiasaan yang selalu menempatkan kantor pusat di Jakarta. Banyaknya jumlah perusahaan perkenunan yang beroperasi diwilayah Sumatera menjadi alasan utama mengapa kegiatan GAPKI banyak dipusatkan di Medan. Belakangan, pengurus dan anggota memutuskan untuk memindahkan kantor pusat ke Jakarta. Pembelian kantor pusat tidak berjalan mulus begitu saja, lagi-lagi dana selalu menjadi ganjalan. Saya dan beberpa anggota pengurus mencari kantor yang sesuai dengan kebutuhan. Arifin Kamdi, Bambang Wiwesa, Mona Surya, dan Bambang Palgoenadi ikut meninjau. Sulit juga karena kami ingin lokasi bagus, tetapi dengan harga terjangkau. Akhirnya semua sepakat dengan sebuah rumah kantor di bilangan Sudirman Park.

Sumber : Derom Bangun

5 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like