Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CXXVIII)

Pemerintah mengambil alih perkebunan dengan alasan politik dan keamanan. Untuk mengamankan jalannya produksi, pemerintah meletakan perwira militer disetiap jenjang manajemen perkebunan. Pemerintah juga membentuk Bumil atau buruh militer yang merupakan kerja sama antara buruh perkebunan dan militer. Perubahan manajemen dalam perkebunan dan kondisi sosial politik serta keamanan dalam negeri yang tidak kondusif menyebabkan produksi kelapa sawit menurun. Posisi Indonesia sebagai pemasok minyak sawit dunia terbesar tergeser oleh Malaysia. Dari makalah Adlin U.Lubis saya baca bahwa tahun 1939 produksi minyak sawit Indonesia sudah 226.000 ton, Afrika jajahan Inggris 128.000 ton, Congo Belgia 70.000 ton, dan Malaya Baru 60.000 ton. Ketika saya hadir dalam Simposium Kelapa Sawit di Kuala Lumpur, 6-8 November 1969, terungkap bahwa produksi Indonesia hanya 180.000 ton, sementara Malaysia sudah 330.000 ton.

Priode pengambilalihan itu, Pertama, senagai koksekwensi dari kemenangan Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949. Kedua, sebagai perwujudan deklarasi ekonomi untuk kemandirian bangsa pada tanggal 10 Desember 1957.

Nasionalisasi atau pengambil alihan perusahaan-perusahaan perkebunan milik Belanda pada tanggal 10 Desember 1957 merupakan periode yang sangat penting sebagai titik pijak berkembangnya pembangunan perkebunan di Indonesia. Saya diundang dan hadir pada tanggal 10 Desember 2009 di Yogyakarta. Kemudian setiap tanggal 10 Desember diperingati sebagai Hari Perkebunan. Direktur Jenderal Perkebunan Achmad Mangga Barani mengesahkan, acara ini akan diperingati setiap tahun. Soedjai Kartasasmita dan saya hadir sebagai undangan. Pada tanggal itu kedaulatan Republik Indonesia benar-benar ditangan bangsa sendiri setelah beratus tahun dalam gemgeman bangsa asing. Nasionalisasi dilaksanakan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian RI No. 229/UM/1957. Kemudian diikuti dengan pengambilalihan perusahaan milik Inggris, Prancis, Belgia, Amerika Serikat dan lain-lain, termasuk diantaranay Socfin, tempat saya kerja kelak, yang sebelumnya milik Belgia.

Sumber : Derom Bangun

16 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like