Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CXXIII)

Tahun 1848 tanaman kelapa sawit masuk ke Indonesia dan daerah-daerah lain di Asia sebagai tanaman hias. Saat itu yang menjabat Direktur Kebun Raya Bogor adalah Johannes Elyas Teysmann.

Ada empat yang ditanam di Kebun Raya Bogor (Botanical Garden) – Bogor dahulu bernama Buitennzorg-dua berasal dari Bourbon (Mauritis, Afrika) dan dua lainnya dari Hortus Botanicus, Amsterdam, Belanda. Pada tahun 1853, keempat tanaman tersebut telah berbuah. Bijinya disebarkan secara gratis. Pada pengamatan tahun 1858, ternyata ke empat tanaman tersebut tumbuh subur dan berbuah lebat. Walaupun berbeda waktu penanaman (asal Bourbon lebih dulu dua bulan), tanaman tersebut berbuah dalam waktu yang sama, mempunyai tipe yang sangat beragam, kemungkinan diperoleh dari sumber genetik yang sama. Pohon induk ini telah mati pada 15 Oktober 1989, tetapi anakannya bisa dilihat di Kebun Raya Bogor sampai hari ini.

Kira-kira sepuluh tahun kemudian diadakan uji coba penanaman kelapa sawit pertama di Indonesia yang dilakukan di Karesidenan Banyumas dan Karesidenan Palembang, Sumatera Selatan. Hasilnya menunjukan bahwa kelapa sawit telah berbuah pada tahun keempat setelah ditanam dengan tinggi batang 1,5 meter, sedangkan dinegeri asalnya baru berbuah pada tahun keenam atau ketujuh. Selanjutnya uji coba dilakukan di Muara Enim tahun 1869, Musi Ulu tahun 1870, dan belitung tahun 1890, tetapi tidak begitu baik pertumbuhannya. Hal ini baru disadari kemudian, bahwa iklim daerah Palembang kurang sesuai untuk pertumbuhan kelapa sawit. Kemudian dikembangkan di Sumatera Utara, ternyata hasilnya baik. Keunggulan kelapa sawit Sumatera Utara sudah dikenal sejak sebelum Perang Dunia ke II dengan varietas Dura Deli, yakni tanaman kelapa sawit yang ditanam di Tanah Deli (Medan dan sekitarnya).

 Sumber : Derom Bangun

16 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like