Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CXVII)

Ia pun melanjutkan penjelasannya, “Ini kenaikan harga sebetulnya dalam dagang biasa saja”. Menurut Faisal, didalam kitab suci pun ada anjuran bahwa manusia harus hidup sederhana, tidak boleh berlebih-lebihan. “Kalau kita baca kitab sucipun ada anjuran untuk berhemat dan menabung saat sedang banyak uang”. Pendekatan dengan cara itu agaknya berguna juga untuk mendekati para petani yang diliput kesusahan. Jadi, Faisal Basri sudah menjelaskan dari aspek itu, juga ekonomi makro: bagaimana ekonomi dari Amerika itu berpengaruh ke negara-negara lain.

Saya tingal menyamambung penjelasanya dengan mengatakan dua faktor dalam pembentukan harga: yang pertama, sebetulnya kenaikan awal itu sudah melampaui batas normal. Dulu pun kita tidak percaya harga bisa mencapai  1.300 dollar AS per ton CPO. Yang kedua, karena harga itu sudah tinggi, di Tiongkok dan India ibu-ibu rumah tangga sudah mulai mengurangi pengunaan minyak sawit. Dengan uang belanja yang sama, jumlah minyak yang dibeli berkurang.

Tentu itu bisa saja. Saat harga naik, orang tentu akan menahan pembelian. Namun, di sanalah proses keseimbangan ekonomi tercipta, perlahan harga menyesuaikan diri. Jadi sebetulnya ketika harga tinggi, dan di beberapa negara seperti Tiongkok, India dan Pakistan mengunakan minyak nabati mulai berkurang, para pedagang belum juga sadar akan hal itu. Baru terasa akibatnya ketika volume perdagangan makin menurun dan berimbas kepada transaksi ditingkat petani sawit.

 Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like