Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CXVI)

Itulah sebabnya, Gapki di Riau menjadi sasaran keluh kesah dan segala tumpahan perasaan  yang serba tak menentu itu. Petani semakin bingung, pemerintah daerah pun menanyakan kepada Gapki apa yang harus diperbuat untuk mengatasi persoalan ini. Lalu Gapki cabang Riau pikir bagaimana cara menjawab ini. Mereka merancang sebuah acara seminar yang bertajuk “Ada apa denagab sawit?” Panitia mengundang saya dan pengamat ekonomi Faisal Basri untuk bicara. Acara seminar diadakan di Hotel Ibis, Pekanbaru, 20 Oktober 2008.
Dalam acara itu hadir para petani dan pengusaha-pengusaha anggota Gapki, ditambah dari unsur-unsur pemerintah dan wartawan dari beberapa media. Pukulan harga yang jatuh secara cepat itu rupanya cukup membuat orang-orang bingung, apakah kebun sawit akan bertahan lama atau tamat riwayatnya bersamaan dengan  krisis harga saat itu. Banyak yang merasa mulai ragu apakah sawit bisa dijadikan andalan penghasilan keluarga. Penyebabnya adalah harga tandan buah segar yang pada awal tahun 2008 lebih dari Rp. 2000, pada september hanya Rp. 400 – 500 perkilo.

Karena fokus perhatian Faisal Basri lebih makro, maka saya bilang kepadanya supaya bicara lebih dahulu. Sementara itu saya akan menjawab pertanyaan yang lebih mikro, lebih menyangkut persoalan teknis dunia sawit. Dalam ceramahnya, Faisal Basri memeulai dengan approach keagamaan, karena dia tahu peserta seminar rata-rata tertekan dalam situasi itu. Dia bilang “Saya dengar ada petani yang stres. Tapi saya yakin yang begitu tidak pernah baca kitab suci”, katanya. Pengamat ekonomi terkemuka dari Universitas Indonesia itu ingin para petani dan pengamat kelapa sawit yang datang keacara memahami bahwa agama dan Tuhan lah tempat bersandar dalam keadaan tersulit.

 Sumber : Derom Bangun

18 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like