Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CXV)

HARGA MINYAK SAWIT ANJLOK, PETANI SHOCK

Minyak sawit sebagai primadona yang banyak dilirik orang. Bukan saja terbukti ampuh untuk imbal dagang, tetapi juga sempat menjadi masalah yang menyusahkan orang. Pada tahun 2008 harga sawit melambung tinggi. Sampai pada bulan Maret harga tembus ke kisaran 1.300 dollar AS per ton di Eropa dan di dalam negeri mencapai Rp. 11.000 per kilogram – Rp. 11 juta per ton. Ketika itulah harga buah sawit petani di kebun-kebun lebih dari Rp. 2.000 per kilo. Petani-petani pun terlena dengan harga yang membumbung tinggi, tidak terkecuali mereka yang di Riau. Mereka yang kurang memperhitungkan kemungkinan jatuhnya harga segera membelanjakan uangnya untuk kebutuhan konsuntif. Ada yang beli mobil Fortuner secara diangsur, sepeda motor untuk anaknya, televisi dan segala macam.

Namun, keadaan segera berubah memasuki akhir Maret. Harga perlahan menurun dan terus menurun sampai bulan Juli. Pada bulan Juli itulah harga turun lebih tajam. Sebenarnya di India dan Tiontgkok pembelipun sudah mulai berkurang, tetapi efeknya belum langsung terasa. Ketika sawit turun hargannya, dipukul lagi oleh krisis keuangan dari Amerika, harga minyak swit jatuh menghujam ke level terendah dan harga buah nerosot, dari Rp. 1.300 pe rkilogram ke Rp. 550 per kilo gram. Penurunan harga yang tidak rasional karena lebih dari 50 persen.

Keadaan itu makin diperparah dengan adanya permainan-permainan di bawah. Harga yang sudah rendah itu dimanfaatkan oleh para agen pengumpul dengan menekan petani untuk melepas buahnya dengan harga di bawah Rp. 500. Terpaksalah para petani menjual b uahnya seharga Rp. 350 – Rp. 400 per kilogram. Itulah yang menyebabkan hidup petani berubah draktis. Mereka yang semula sangup membayar cicilan mobil tiba-tiba harus berhenti ditengah jalan dan menangung malu atas keadaan itu. Banyak orang tertekan karenanya, bahkan sempat tersiar kabar ada yang bunuh diri, juga ada yang terganggu jiwanya karena perubahan yang serba draktis dan cepat itu.

 Sumber : Derom Bangun

No tags for this post.

Related posts

You May Also Like