Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CXLVII)

Pagi-pagi di dalam kamar hotel saya mendapat telepon dari Pak Akmal, minta saya turun ke lobi. “Saya sampai tidak bisa tidur tadi malam. Soal ini payah”, katanya.

“Kalau kita pertahankan keinginan kita, GAPKI akan pecah”, katanya.

“Apa ada solusi lain?” tanya saya.

Akmalauddin lantas menyampaikan usulan alternatif. Berdasarkan aspirasi anggota, ia didorong juga mencalonkan diri sebagai ketua umum. Saya mendukung usulan itu demi kekompakan GAPKI. Namun, Akmaluddin tetap tidak ingin lepas dari saya. Ia ingin kendati dirinya menjadi ketua umum, saya tetap duduk di dalam kepengurusan sebagai pendampingnya.

“Saya bilang sama nereka, saya tidak sanggup kalau Pak Derom tidak ikut dalam kepengurusan. Pengalaman Pak Derom disini diperlukan. Semua sudah tahu, apa lagi pengalaman ke luar negeri. Saya tidak mungkin”, kata Akmaluddin.

“Jadi bagaimana?” tanya saya lagi.

“Kaena itulah, kita sedang mencari satu tempat supaya Pak Derom sebagai pendamping sayasehingga bisa terus aktif”.

“Bagaimana caranya?”

“Tambah satu pos di formasi struktur “, kata Akmaluddin.

“Kira-kira apa?”

“Bagaimana kalau wakil ketua umum?” katanya.

“Itu tidak ada dalam struktur. Bagaimana kalau ketua harian?” Kata saya.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like