Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CXLV)

“Nanti saya usulkan aggaran dasar di ubah dalam kongres sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam organisasi. Dinegara ini UUD 1945 pun bisa diaman demen, apalagi anggaran dasar dan rumah tangga”, kata Akmaluddin. “Saya akan baut surat resmi”, katanya lagi meyakinkan saya.

Dia pun segera menulis surat resmi agar diadakan perubahan AD\ART untuk mendukung pencalonan saya sebagai ketua umum ketiga klainya. Beberapa perusahaan lain juga menulis surat yang sama isinya. Saya sendiri tidak pernah berambisi menjadi Ketua Umum GAPKI. Buat saya, kegiatan di GAPKI murni untuk mengaktualisasikan gagasan serta membawa misi memajukan industri dan pengembangan sawit di Indonesia.

Pada bulan Januari 2006 diselengarakan Munas di Hotel Aryaduta, Jakarta. Munas itu semiestinya di adakan pada 2005, tepatnya diakhir priode kepemimpinan saya. Namun, karena alasan teknis, pelaksanaanya diundur.

Dalam kongres terjadi polarisasi kekuatan, kalau istilah sekarang “kubu-kubuan”. Ada kubu yang mau mencalonkan saya menjadi ketua umum lagi unuk ketiga kalinya, ada yang tidak. Suatu hal yang lumrah dalam berorganisasi. Kubu yang menginginkan saya menjadi ketua umum cukup banyak. Semua PTPN, PT. Socfindo, PT. Tolan Tiga, PT. Musim Mas, dan orang-orang dari perusahaan asing umumya menginginkan saya menjadi ketua umum. Mereka hadir siang malam di kongres supaya bisa mendukung. Saya lihat, situasi kongres tidak begitu bagus, nada-nadanya sudah seperti merebut posisi ketua umum partai politik saja. Dalam situasi seperti itu saya lebih banyak tingal dikamar dari pada di dalam ruangan sidang.

Sumber : Derom Bangun

2 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like