Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CXCVII)

Kembali dari Kuala Lumpur, saya membuat laporan direksi yang isisnya mengunggulkan membeli screw press satu unit untuk menganti lima unit kempa hidrolik di pabrik Mata Pao. Tahun 1970 pesanan tiba dan itulah screw press yang pertama dipasang di Indonesia.

PT. Socfindo termasuk yang cepat mengambil keputusan untuk menganti mesin-mesin lama kempa hidrolik ke mesin ulir. Keputusan itu bukan tanpa alasan. Kondisi pabrik sangat tua, tidak bisa mengimbangi hasil buah dari kebun yang telah direhabilitasi. Produksi meningkat, sedangkan pabriknya tidak mampu menampung kenaikan produksi. Padahal, tandan buah sawit yang sudah dipanen tidak boleh ditunda pengolahannya.

Hal ini menyadarkan saya akan satu hal. Saya adalah insinyur kimia. Berbagai proses kimia industri besar menjadi pelajaran utama. Pabrik pupuk, pabrik baja, pabrik plastik, dan pabrik penyulingan minyak bumi kami pelajari prosesnya di Jurusan Teknik Kimia ITB. Ilmu kimia organik bahkan sangat mendalam dipelajari. Mengenai listrik? Memang ada pelajaran listrik, tapi sangat terbatas. Pada tingkat dua, mahasiswa jurusan kimia teknik mendapat mata pelajaran Electricity and Magnetism. Pelajaran itu saya ikuti dengan baik. Kemudian pada tingat tiga ada pelajaran Teknik Tenaga Listrik (TTL) yang juga saya sukai. Semua itu tidak cukup untuk diandalkan dalam mengalihkan semua pabrik dari sistem mekanis menjadi sistem elektris.

Sumber : Derom Bangun

3 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like