Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CXCIX)

Cara penugasan yang mendadak memang merupakan kebiasaan di Socfin. Mutasi tugas dari satu kebun ke kebun lain biasanya mendadak dengan tenggang waktu hanya dua-tiga hari. Karena itu, saya tidak heran dengan perintah seperti itu. Yang kaget dan merasakan getirnya adalah istri saya. Dia belum lama mengenal kebiasaan socfin. Dia tidak tahu dimana Aek Loba. Perlu sekadar persiapan.

Karena itu, saya ingin segera menemuinya dulu di rumah orang tua saya, karena kami masih tinggal menumpang di sana. Maksud saya menjelaskan tugas ini agar segera bersiap untuk berangkat sore sekitar pukul empat setelah nanti saya pulang dari kantor. Ketika itu belum ada sambungan listrik pun belum ada. Tapi ternyata istri saya sedang ke pasar. Bisa saja saya menulis surat, tapi waktunya terlalu sempit karena saya harus kembali ke kantor. Pasti lebih cepat dengan omongan yang direkam dalam tape recorder yang saya beli di Malaysia ketika menghadiri simposium.

Rekaman saya tinggalkan, lalu kembali kekantor. Ketika sore saya tiba di rumah, ternyata semua sudah dipersiapkan oleh istri saya dan kami langsung berangkat. Perjalan dari Medan ke Aek Loba sudah sering saya lalui dalam tugas sebagai staf teknologi, tapi istri saya belum pernah. Setelah melewati Tebing Tinggi, Indrapura, Bunut, Kisaran, Simpang Kawat, dan pulau Raja, kami baru tiba di Padang Mahondang pukul 12 tengah malam. Walaupun masuk ke suatu daerah yang asing melintasi jalan kebun di tengah belukar, ia tampak tenang saja. Dia selalu merasa aman kalau di dekat saya, paling tidak itulah yang sering dikatakannya.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like