Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CXCIII)

Pembangunan fisik pabrik sudah mencapai 95 persen saat kami diberi tahu bahwa Raja dan Ratu Belgia akan datang berkunjung dan ingin melihat pabrik. Artinya, semua peralatan sudah terpasang dan bisa dioperasikan. Ketel uap sudah diuji dan diberikan izin oleh Depnaker, turbin pembangkit tenaga listriknya juga sudah dicoba dengan hasil memuaskan. Bagian peralatan pengolahan, mulai dari bejana rebusan sampai alat-alat permurnian minyak, atau inti sawit masih ada sedikit kekurangan.

Kedatangan orang nomor satu Kerajaan Belgia itu pun berlangsung sukses. Raja Baudouin dan Ratu Fabiola adalah pasangan serasi. Raja terlihat tampan dan Ratu Fabiola tampak anggun. Mereka berdua kelihatan terkesan dengan keadaan pabrik yang baru itu. Kendati kedatangan mereka hanya sebentar, hal itu cukup berkesan buat saya.

Kesempatan itu merupakan yang kedua bagisaya melakukan tugas sebagai MC dalam menyambut tamu-tamu kehormatan perusahaan. Yang pertama adalah ketika pabrik Aek Loba diresmikan pada tahun 1973. Rupanya pemerintah memberikan perhatian besar terhadap pabrik baru pengelolaan kelapa sawit sehingga wakil persiden memerlukan datang jauh-jauh ke daerah pedalaman di Kabupaten Asahan. Jarak Medan ke Aek Loba sekitar 220 kilometer memerlukan waktu empat jam dengan jalan darat.

Tentu saja wakil presiden tak bisa menyediakan waktu sebanyak itu hanya untuk habis di jalan. Karena itu, perjalanan dari Medan ke Aek Loba akan ditempuh dengan pesawat terbangmilik perusahaan. Skenarionya, wapres akan tiba dibandara Polonia pukul sepuluh pagi dan langsung transit ke Aek Loba. Sementara itu, pesawat terbang Cessna yang dipiloti Syamsir Kinan akan menjemput Inspektur Grup I dari kebun Seumayam yang terletak di Aceh Barat.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like