Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CXCI)

Begitu pun dalam melalukan uji coba mobil. Tentu saja tak ada keluhan dengan model baru itu. Lancar-lancar saja.

“Bagaimana, bagus tidak?” tanya Mr. Dell kepada saya.

“Bagus”, Jawab saya.

Ia pun merespon penilaian saya dengan pernyataan yang tak terduga dan mengagetkan saya. “Ya sudah. Kalau bagus, itu buat you saja”, kata dia menyerahkan mobil baru itu kepada saya. Puji tuhan, kaget saya dibuatnya. Tapi saya tidak punya uang untuk membayar mobil baru.

“I dont have money”, kata saya.

Alih-alih menjawab keraguan saya, Mr. Dell malah meminta saya jangan memikirkannya karena perusahaan akan mengantur itu untuk saya.

“Lantas bagaimana dengan Mr. Ruesch?” lagi-lagi saya bertanya bercampur bingung.

“Kita beli lagi yang lain”, kata Dell memastikan.

Setelah itu diaturlah bagaimana cara mencicil mobil itu supaya tidakmemberatkan saya. Sejak hari itu Holden Kingswood pun menjadi milik saya. Bukan itu saja, sering kali pula saya di tunjuk mendadak menjadi kepala antarwaktu, mengantikan sementara pejabat yang sedang cuti atau berhenti sampai ada penggantinya. Itu lah yang terjadi saat posisi kepala pabrik besar Aek Loba. Perintah itu datang siang hari dan sore harinya saya harus segera bergegas menuju kesana dari Medan. Karena perintah, tentu saya tak dapat menampiknya.

Mungkin semua itu bisa diartikan sebagai fasilitas dari perusahaan kepada saya. Tapi bisa juga diartikan sebagai tantangan yang diberikan buat  saya agar semakin matang dalam menjalankan tugas. Saat itu seorang insinyur lulusan ITB masih bisa dihitung dengan jari. Dan saya, sebagai salah satu dari sedikit insinyur itu, tentu harus banyak mendapatkan pengalaman pabrik di lapangan agar teori yang saya dapatkan di kampus ITB tidak percuma. Itu pula yang sepertinya hendak diketahui oleh Baron van Langlede saat mewawancara saya soal perkebunan karet di masa yang akan datang. Saat itu saya bisa memperkirakan usia bisnis kebun karet dari teori yang saya dapatkan dari kampus. Tentu saja pengalaman kerja sama pentingnya dengan teori. Dan wawancara Baron van Langlade itu ternyata membuka pintu bagi kalangsungan karier saya di Socfin.

Sumber : Derom Bangun

2 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like