Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CXC)

“Dimana kau sekolah dulu?” tanya dia.

“ITB, Bandung”.

“Sudah kawin?”

Yes I am”, kata saya menyebut sir. Saya tidak pernah mau mengatakan sir kepada siapa pun. Tidak mau saya mengatakan yes, sir. Dan dalam buku bahasa Inggris yang saya baca, kita harus mengatakan penuh, Yes I am. Itu membuat orang lebih respek. Kita tidak merendah, tapi juga tidak menyombongkan diri. Biarpun dia baron, saya ingin menunjukan keperibadian tanpa memperlihatkan kesan angkuh.

“Children?” tanyanya.

“Baru satu:, jawab saya.

Waktu itu Nando baru berumur tiga hari, baru lahir. Semenjak itulah rupanya saya mulai mendapt perhatian dari mereka di Belgia, Mendapat kepercayaan. Itu sebabnya, setiap kali saya mau ke Eropa, tidak pernah di halangi oleh siapa pun. Perusahaan pun banyak memberikan perhatiannya kepada saya. Seperti yang pernah terjadi pada 1972. Saat itu perusahaan membeli sebuah mobil merek Holden Kingswood. Mobil itu sejatinya dibeli perusahaan untuk Mr. Ruesch, penasehat direksi bidang tanaman. Dia warga negara Swiss yang di pekerjakan oleh Socfin.

Waktu itu di Socfin sudah ada mobil dinas dari beberapa merek terkenal, antara lain jip buatan Inggris, Land Rover, dan sebelumnya Nissan Patrol. Saya dipanggil Mr. Dell, atasan, untuk menjajal mobil baru itu. Sebagai insinyur saya dianggap bisa melakukan apa pun dan memeberikan penilaian terhadap hal-hal yang bersifat teknis.

Sumber : Derom Bangun

3 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like