Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CVII)

Besarnya volume ekspor tahun 2001 tidak terlepas dari promosi yang dilakukan delegasi Menperindag Jusuf Kalla tahun 2000 ke Moskaw. Penurunan yang terjadi secara dramatis pada tahun 2002 saya anggap terjadi karena kalah bersaing dengan Malaysia. Pemerintah negeri jiran itu melakukan terobosan untuk membantu pengusahanya. Caranya adalah dengan memberikan kredit ekspor untuk beberapa negara tujuan. Kredit ekspor itu diterima eksportir sehingga pembeli atau importir di Rusia boleh menunda pembayaran. Memang importir Rusia harus menunggu dana dari pihak pabrik yang juga berstatus sebagai pembelinya. Pihak pabrik bisa bayar setelah produksinya terjual, artinya pabrik harus dapat kredit dari importir. Importir Rusia ini boleh tunda pembayaran kepada eksportir Malaysia yang mendapat dana pada saat melakukan ekspor berupa dana kredit ekspor dari pemerintahnya.

Bagaimana dengan eksportir Indonesia?

Keinginannya segera dibayar oleh importir Rusia, tapi tidak demikian kenyataannya. Akibatnya kita kalah bersaing dengan Malaysia. Tetapi banyak yang lupa bahwa dana yang dipakai Pemerintah Malaysia itu memang sebagian diperoleh dari pengusaha sawit Malaysia. Di Indonesia tidak ada dana khusus dipungut untuk melindungu industri sawit. Itulah bedanya. Soal persaingan ini diangkat Kompas secara panjang lebar dalam beritanya tanggal 24 April 2003 itu.

Mengenai imbal dagang Sukhoi ditulis juga oleh Kompas, tetapi anggota organisasi Gapki mungkin belum semua membacanya. Supaya resmi, saya umumkan tawaran itu dalam rapat koordinasi Gapki yang dilaksanakan pada akhir bulan April 2003 di Hotel Borobudur, Jakarta.  Semua pengurus cabang yang ada di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi hadir. Anggota pengurus Gapki Pusat yang juga menjadi pimpiman perusahaan hadir seperti Maruli Gultom dan Benny Tjung dari Astra Agro Lestari, Daud Dharsono dari Sinar Mas Group, Lukas dari Asian Agri, Susanto dari Minamas Gemilang, Surja dari Musim Mas, Joefly Bachroeni dari Lonsum, Ibrahim Pidie dari PT. Baizury, Mona Surya dari Minaga Ogan, dan tentu saja pengurus setia M.Arifin Kamdi dari Paya pinang Group dan Suwito dari mopoli Raya. Saya juga melihat Marthias dari Surya Dumai walau belum tahu apakah perusahaannya sudah masuk anggota ketika itu.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like