Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CLXXXVII)

Saya agak terkejut bercampur gembira ketika tanggal 4 Mei 1996 masuk telepon dari salah seorang pengurus BAB Jakarta. Dewi, pengurus itu, mengatakan ada informasi dari negeri Belanda melalui Arianne, seorang anggota BAB di Surabaya. Arianne diberitahu oleh orang tua Stan bahwa anaknya bersama Sebastian berada di irian Jaya. Mereka ketiadaan angkutan dan masih menunggu kedatangan kapal. Dalam bahasa yang didramatisasi, disebut mereka stranded atau terdampar. Kabar itu memastikan bahwa mereka dalam keadaan selamat. Itu suatu hal yang penting, terutama bagi saya selaku penangung jawab yang memberi mereka izin pergi. Tapi saya senang. Sebastian, pemuda avonturir yang jadi anak asuh saya itu, akhirnya kembali selamat.

Baca Juga :   Indef: Moratorium Sawit Sebaiknya Tidak Diperpanjang

MEMPROYEKSI MASA DEPAN KARET ALAM

Pada pengujung tahun 1970 saya dipanggil ke kamar direksi untuk menjumpai Baron van Langlade, salah satu komisaris PT. Socfin yang datang dari Belgia. Badannya agak besar, standar orang Eropa pada umumnya. Waktu itu dia sudah agak berumur. Saya perkirakan sudah lima puluh tahun lebih. Kendati demikian, masih terdengar kuat dan tegas gaya bicaranya. Waktu itu ia mewawancara saya, menguji kemampuan analisis saya dalam soal perkebunan. Dia mengajukan serentetan pertanyaan mengenai pabrik dan berbagai soal dalam dunia perkebunan.

Dari sekian pertanyaan yang diajukan kepada saya, ada satu pertanyaan menarik untuk saya dan jawaban yang saya berikan pun ternyata membuatnya tercengang. Maklumlah, pertanyaan itu keluar dari seorang yang banyak makan asam garam dalam bisnis perkebunan, sementara jawaban datang dari seorang pemuda yang baru saja menapaki karirnya di industri perkebunan.

Baca Juga :   Strategi Clariant Indonesia Penuhi Permintaan Bleaching Earth di Asia Pasifik

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like