Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CLXXXVI)

Mengajar memang tugas yang tidak mudah. Hal itu juga yang pernah saya alami ketika menjadi orang tua asuh bagi beberapa mahasiswa asing yang mengikuti program perturan pelajar. Salah satu yang saya masih ingat betul adalah Sebastian Seidel dari frankfurt, Jerman, yang tinggal bersama keluarga saya. Anak ini baik dan lebih patuh dari yang pertama. Hanya sifat avonturirnya itu yang merisaukan saya. Dia pergi bersama temannya, ke daerah Aceh, pada hal keamanan waktu itu kurang baik. Ketika permintaanya tidak dikabulkan, dia merajuk beberapa hari. Saya bawa dia ke Danau Toba sampai ke Samosir. Dia terhibur juga.

Tapi sifat avonturirnya tidak surut. Ketika dia kami izinkan pergi ke Bali. Saya dan istri sepakat bahwa dalam masa libur dia boleh pergi ke Bali. Saya ingatkan bahwa hanya dua minggu dan tidak boleh lebih jauh dari Bali. Dia berangkat dengan temannya, Sant Wannet asal Belanda. Mereka berangkat dari Medan tanggal 8 April 1996. Tapi setelah dua minggu berlalu, tidak ada kabar dari mereka.

Baca Juga :   Komisaris PTPN III Holding Dikurangi 21 Orang

Saya meminta beberpa anggota senior Bina Antara Budaya (BAB) yang selalu aktif, seperti Triputri Siahaan dan Isfan Fahruddin, untuk menghubungi kantor BAB di Jakarta. Jawaban yang saya terima sama saja, mereka tidak tahu. Saya menduga dan bahkan berharap mereka keenakan berlibur lalu lupa pulang. Sebastian yang lebih dari tujuh bulan tinggal bersama keluarga kami memang tidak kenal takut.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like