Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CLXXXV)

Ilmu kimia teknik yang saya dapatkan dari ITB memang semakin diperkaya oleh berbagai problem yang saya hadapi ketika bekerja di PPN Ex Socfin. Tapi orang bilang akan ilmu akan hilang jika tidak dibagi. Oleh karena itu, saya menyempatkan waktu untuk turut mengajar sebagai dosen tidak tetap di Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara. Profesi dosen, yang pernah menjadi salah satu pilihan yang diberikan Andar Manik kepada saya saat baru lulus kuliah, ternyata sempat saya enyam.

Saya diminta oleh Universitas Sumatera Utara untuk jadi dosen. Di jurusan teknik mesin tinggkat IV. Selain pelumasan, saya juga mengampu mata kuliah air ketel dan cat. Ketika saya mengajar, saya menemukan ada kawan sekolah saya, Elkana Purba, yang masih menempuh kuliah di Jurusan Teknis Mesin. Dia ternyata belum lulus, sehingga sempat mengikuti kuliah saya. Belakangan dia menjadi kepala bagian di BKPM, Jalan Gatot Subroto Jakarta.

Dalam mengajar saya tidak mengharapkan pamrih terlalu tinggi karena memang niat mengajar dilandasi inggin berbagi pengetahuan dan pengalaman. Tapi entah bagaimana tiba-tiba kebijakan pemerintah berubah karena melihat semua kehidupan dosen jauh dari standar kemakmuran. Saat itulah saya mendapat uang tunjangan. Uang tunjangan itu bernama “uang pakasi”. Cukup besar. Entah dari mana datangnya anggaran itu. Waktu itu gaji dosen tidaklah terlampau besar. Dengan adanya tunjangan itu, beban para dosen menjadi ringan. Selain di USU, datang juga permintaan kepada saya untuk mengajar di Institut Teknologi Medan (ITM). Disana saya mengajar matimatika teknik. Saya mengajar sekali seminggu. Berpuluh tahun kemudian, setelah tak mengajar lagi di USU, saya diminta menjadi Dewan Penyantun USU.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like