Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CLXXXIV)

Saat itu persoalan ini baru pertama kalinya terjadi di socfindo.  Direksi mencari-cari orang yang dianggap bisa menyelesaikan masalah. Saya waktu itu bekerja di Aek Loba dikontak oleh direksi dan diminta untuk memutuskan persoalan itu. Kepada direksi, saya minta disediakan satu portable pump dan dua batang pipa fleksibel untuk memeindahkan minyak dari gerbong kereta api ke pabrik di Mata Pao.

Apa yang saya lakukan? Dalam ilmu kimia yang saya pelajari teknikmembilas minyak terkena air itu disebut Laeching. Laehing dikalakun dengan cara mencampur minyak dengan air dan memanaskam minyak terkontaminasi itu sampai dengan beberapa derjat untuk memisahkan air laut dari minyak sawit. Metode yang saya lakukan itu ternyata berhasil mengurangi kandungan air laut secara signifikan. Sampel kembali dibawa RISPA untuk diketahui kelayakannya. Namun, beberapa hari kemudian saya dihubungi oleh Yahya Rowter  yang mengatakan kepada saya untuk menemui Profesor Tan Hong Tong.

Baca Juga :   Wheel Loader Dan Grader SDLG di Indonesia Siap Konsumsi B30

Saat menemui Profesor Tan, dia mengatakan bahwa  minyak belum terbebas dari  pencemaran air laut. Saya merujuk pada literatur yang saya baca bahwa air yang kita minum sehari-hari pun pasti mengandung khlor kendati tentusaja dalam jumlah kecil yang tidak membahayakan buat kesehatan, begitu juga dalam minyak sawit. Dalam ambang batas nilai tertentu itu masih dapat ditolerir. Itulah yang saya katakan kepadanya dan ia pun menerima argumentasi saya. Minyak yang nilainya ribuan dollar itu pun akhirnya bisa diekspor. Perusahaan pun ter hindar dari kerugian. Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like