Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CLXXXIII)

Setelah bekerja lebeh dari sebulan, ada pangilan dari ITB untuk mengambil ijazah yang tertinggal di kampus. Saya pun menghubungi pak Sudino, sekretaris di ITB. Saya bilang kepadanya agar disimpan saja dulu ijazah saya. Kapan-kapan kalau ada rezeki lebih saya akan susul ijazah itu ke Bandung. Baru pada 1971 saya berhasil membawa ijazah tersebut.

Awal karier di Socfin memberikan saya banuak pengalaman bagaimana menangani sebuah pabrik sekaligus karyawan yang bekerja disana. Anak muda yang baru meraih gelar sarjana ini dituntut belajar secara cekatan menyesuaikan diri dengan lingkungan perkebunan yang penuh dengan tantangan. Di antara lulusan kimia teknik angakatan saya, agaknya saya sendiri yang “tersasar” masuk keperkebunan. Banyak dari kawan-kawan saya yang masuk ke industri kimia di perusahaan-perusahaan besar. Tetapi saya tersesat dijalan yang benar, karena sawitlah yang menjadikan berkah bagi kehidupan saya dan keluarga.

Ketika saya baru bekerja beberpa bulan, muncul suatu masalah yang cukup berat bagi perusahaan. Sejumlah 400 ton minyak sawit yang tiba dibelawan tercemar oleh air laut. Ternyata tongkang yang memuat minyak sawit dari kebun Lea Butar, Seumayam, dan Seunagan itu bocor dan minyak diketahui tercemari oleh air laut setibanya di pelabuhana Belawan. Pencemaran air laut pada minyak setiap ekspor itu tentu saja menjadi petaka besar bagi perusahaan. Minyak sawit yang di ekspor wajib bebas air laut atau free from seewater. Lembaga yang memiliki lisensi untuk mengeluarkan setifikat free from seewater adalah RISPA yang dipimpin oleh Profesor Tan Hong Tong yang terkenal alot dan disiplin didebat. Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like