Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CLXXXI)

Proses melamar pekerjaan ke PPN Ex Socfin saat itu tegolong lancar-lancar saja. Mungkin berkat do’a kedua orang tua saya yang berharap besar agar saya bisa cepat bekerja. Berbagai tes, mulai dari lamaran, tes screening, hingga wawancara, bisa saya lalui tanpa ada masalah berarti. Saya lulus tes screening yang dilalukan oleh Mayor M.P. Hasibuan. Saat itu pegawai diwajibkan “bersih lingkungan”, dinyatakan bebas dari pristiwa G30S 1965.

Dalam wawancara saya ditanyai berbagaimacam pertanyaan, khususnya mengenai keahlian yang saya miliki dalam penerapannya kelak diperusahaan. Rupanya Pak Roga terkesan. Kata dia, proses sudah oke, tapi karena status perusahaan milik negara, meski ada persetujuan menteri untuk menerima pegawai baru sekelas msarjana dengan golongan F di perusahaan. Waktu itu Menteri Perkebunan adalah Frans Seda. Kebetulan sekretaris Frans Seda, Subroto, saya kenal cukup baik semasa saya masih kuliah di Bandung. Saya katakan kepada Roga Ginting, kalau memang diperlukan, saya akan bisa memintakan melalui sekertarisnya.

“Beginilah, sabar dulu. Tak lama lagi pun saya ke Jakarta. Mungkin bisa sambil lalu saya sampaikan”, katanya.

Secara defacto saya sudah diterima bekerja di PPN Ex Socfin, tetapi karena urusan legal formal, maka saya menunggu lagi pangilan untuk mulai bekerja. Pangilan kerja resmi baru ada pada Januari 1967. Pangilan itu sekaligus mengakhiri masa penganguran saya yang berlangsung tiga bulan. Kabar gembira itu saya sampaikan kepada orang tua, khususnya kerpada ibu. Saya katakan kepadanya supaya tidak usah terlalu mengkhawatirkan kondisi saat itu. Saya bilang yang paling penting kita masih bisa makan.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like