Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CLXXV)

“Jadi, kalau senior kita sudah ngomong, kita pasti dukung”,  kata Sahat yang disambut Asril.

“Iya, Kita tetap ikut”.

Mereka sengaja membaut hati saya senang. Tetapi memang, Sahat sering berpelilaku orang Batak yang sudah menjiwai budaya Jawa, dengan prilaku agak halus.

Dewan Minyak Sawit Indonesia memang nampak mentereng, seperti perkumpulan yang memiliki banyak dukungan dana, tetapi kenyataanya tidak demikian. Saya mengusulkan agar DMSI memiliki mekanisme pengumpulan iuran sukarela dari anggota-anggotanya, karena sering kali untuk berkumpul rapat di Jakarta saja tak semua bisa menghadiri gara-gara minimnya ongkos. Rapat rutin bulanan pun sulit dilakukan karena karena pengurus tak mendapatkan izin dan dukungan dari perusahaan tempatnya bekerja, seperti yang terjadi pada rekan saya, Suwito dari Medan.

Baca Juga :   Uji Jalan B30 Kendaraan Darat Dapat Hasil Positif

Dalam rapat saya mengutarakan cara pengumpulan dana iuran. Saya katakan langsung bahwa GAPKI harus mendukung. Sebagai buktinya mereka akan menyerahkan iuran tahunan Rp. 300 juta. GAPKI bersedia. Begitu pula AIMMI yang menyumbang Rp. 500 juta. APKASINDO sebagai asosiasi petani tetntu tidak bisa memberikan sumbangan yang banyak, tetapi saya tidak pernah memaksakan karena semua bersifat sukarela. Mereka menyumbang Rp. 1 juta. Sementara itu, Asosiasi Biodiesel bilang “Kami sedang rugi ini”. Ada dispensasi buat mereka.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like