Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CLXII)

Tentu saja petani tak mahir membuat rencana bisnis sebagai syarat pengajuan untuk kredit ke bank. Petugas bank itulah yang melakukan penghitungan dan membuat rencana bisnis dihadapan petani tersebut, berapa kira-kira penghasilan peladang sawit itu dan kira-kira berapa uang kredit yang rasional untuk dikucurkan kepada peladang. Dengan demikian peladang tak repot-repot datang ke bank, membawa segala macam perlengkapan untuk mengajukan kredit yang belum tentu juga disetujui oleh pihak bank. Dengan cara jemput bola itulah uang cepat berputar dan peladang sawit pun bisa dengan leluasa mengembangkan usaha ladang sawitnya.

Pemerintah Malaysia terlihat sangat bijak dengan upaya jemput bola itu. Dengan demikian, kredit bank itu tidak hanya diperuntukan bagi pengusaha kelapa sawit kelas kakap, tetapi petani kecil pun bisa menikmatinya. Walhasil, industri sawit di Malaysia secara umum bisa berkembang dengan pesat dalam waktu yang tak berapa lama. Kebijakan pemerintah dalam industri  sawit pun dapat langsung dirasakan oleh warga kecil. Itulah prinsip keadilan yang semestinya bisa juga diterapkan di Indonesia.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like