Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CLV)

Kongres ke-73 IASC di Brazil itu memang lebih semarak dibandingkan kongres ke-72 di Sidney, Australia. Salah satu alasan yang jelas adalah pengaruh faktor keamanan. Beberapa hari sebelum kongres di Sidney itu terjadi peristiwa tragis di Amerika Serikat. Menara kembar WTC ditabrak pesawat terbang dan kedua gedung megah itu rontok dengan korban jiwa ribuan orang. Hampir semua peserta dari Amerika Serikat membatalkan kedatangannya ke Australia meskipun sudah membayar uang pendaftaran.

Kongres ke-71 diselengarakan di Budapest, Hongaria. Pada tahun 1997. Suasananya lebih berkesan. Ketika itu Datuk B. Bek Nielsen dari Malaysia juga hadir. Tokoh sawit yang sudah saya kenal sejak tahun 1969 itu memberi banyak masukan di dalam dan di luar rapat. Perhatiannya terhadap peran LSM diungkapkannya dengan jelas. Harapannya agar pihak pengusaha kelapa sawit memperhatikan aspek sosial dan lingkungan selalu terdengar.

Kongres ke-73 di Rio de Janero di tutup pada tanggal 3 April 2003. Bagi saya masih ada tugas menghadiri rapat dewan pengurus IASC pada tanggal 4 April pagi. Baru sore harinya saya bebas dari acara resmi, bertepatan dengan akhir pekan. Akhir pekan saya memanfaatkan dengan mengunjungi Iguazu, air terjen yang terletak di perbatasan tiga negara, yaitu Brazil, Argentina dan Paraguay. Saya yang kebetulan didampingi istri mengunjungi objek wisata yang ditempuh selama satu setengah jam penerbangan dari Rio de Janero bersama M.R. Chandran dan istri.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like