Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CLIX)

Keunggulan Pengusahaan sawit di Malaysia juga terlihat dari hasil panen per hektarnya. Kalau di Indonesia, rata-rata satu hektar lahan hanya bisa menghasilkan minyak sawit antara 3,5 – 3,8 ton maka di Malaysia, dengan hasil riset yang sedemikian hebatnya bisa menghasilkan bibit unggul satu hektar lahan bisa menghasilkan minyak sawit 4 sampai 6 ton. Ini menunjukan betapa seriusnya Malaysia memanfaatkan sumberdaya alamnya itu. Memang Indonesia juga ada perusahaan besar yang baik menghasilkan 6 ton minyak sawit per hektar, tetapi secara keseluruhan Indonesia belum mencapai 4 ton rata-rata.

Lantas bagaimana cara Malaysia mendanai kegiatan dibidang sawit itu? Pemerintah Malaysia mempunyai peraturan yang sangat tegas dalam soal pengumpulan dana CESS. Dalam struktur pemerintahan di Malaysia terdapat Menteri Perusahaan Utama atau Menteri Primary Industry yang diberi kewenangan menangani urusan kelapa sawit dari hulu hingga hilir. Belakangan masa Menteri Utama itu  diubah menjadi Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditas. Jabatan meteri itu kini dipegang oleh Bernard Dompok, yang juga saya kenal baik, karena bersama-sama ketika di Washington dan di Kuala Lumpur dalam acara RSPO.

Sebagai menteri, dia bertangung jawab dan berwenang kepada semua hal mengenai kelapa sawit, baik mengenai perkebunannya, industrinya, maupun perdagangannya. Menteri ini berwenang mengawasi jalannya usaha industri sawit di Malaysia. Para pengusaha sawit dikenai pungutan dana CESS  yang diserahkan kepada MPOB. Pengutipan ini disahkan oleh parleman dengan undang-undang. Jadi, perusahaan tidak bisa mengelak untuk membayar. Dana yang disediakan besarnya itu digunakan untuk kepentingan industri sawit di Malaysia sendiri, semisal untuk membiayai riset dan promosi di luar negeri.

Sumber : Derom Bangun

3 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like