Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CLIII)

Kini saya tidak lagi duduk sebagai ketua di GAPKI. Namun, untuk beberpa pertemuan internasional yang penting, saya selalu diminta menyampaikan makalah. Pelan-pelan saya mulai regenerasi di dalam GAPKI. Ada beberapa orang yang sudah bisa mengambil alih peran saya di dalam GAPKI. Mereka yang lebih muda dari saya mulai membiasakan diri untuk mengikuti kegiatan forum internasional. Saya rasa memeng regenerasi sangat penting bukan saja pada level pemerintahan, melainkan juga pada organisasi propesional seperti GAPKI.

GAPKI sudah seperti rumah buat saya. Di sana, selama hampir satu dasawarsa lebih saya melibatkan diri. Saya tidak pernah menghitung apa yang telah saya perbuat disana. Untuk tiap gagasan yang diterima dan waktu yang diperuntukan buat kemajuan dunia usaha perkebunan sawit Indonesia, sudah membaut saya puas. Apa lagi kalau saya melihat petani sawit di desa-desa bisa mendapat cukup uang untuk menyekolahkan anak-anaknya.

Selama saya berkecimpung di GAPKI,ada begitu banyak kegiatan yang saya ikuti. Salah satunya adalh kongres ke-73 IASC (International Association of Seed Crushers). Ini adalah satu federasi dari organisasi produsen dan prosesor dari berbagai negara di seluruh dunia. Beberap organisasi yang turut bergabung antara lain FEDIOL dari Uni Eropa, ABIOVE dari Brazil, MPOA dari Malaysia, SEA dari India, NIOP dari Amerika Serikat. GAPKI juga masuk menjadi  anggota setelah Raja Alias dari Malaysia yang menjabat Presiden IASC pada tahun 1999 menyampaikan ajakan kepada saya selaku Ketua Umum GAPKI. Melalui Abdul Majed, asistenya yang sengaja datang ke Indonesia menemui saya, dijelaskan bagaimana pentingnya bagi GAPKI menjadi anggota organisasi internasional itu, terutama karena Indonesia sudah menjadi penghasil minyak sawit yang sangat besar.

Sumber : Derom Bangun

2 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like