Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CIV)

“Berapa dollar nilainya?”

“Sekarang harga di Rotterdam sekitar 400 dollar per taon”, jawab saya. 

Dia diam sejenak, mungkin sedang berhitung  di dalam hati. Karena itu saya lanjutkan,

“kalau 300 ton, berarti 120 juta dollar”.

 “ya…,Ya…”, katanya tersenyum

Sore harinya Dirjen Perdagangan Luar Negeri dan tim perunding pemerintah melanjutkan pertemuan. Ada bisik-bisik bahwa perundingan sangat alot. Tetapi kami tidak tahu bagaimana alotnya karena tidak ikut.

Saya dan pengusaha lain bersama beberapa pejabat pemerintah ikut acara tur meninjau Istana Kremlin yang merupakan objek turis utama di Moskaw. Cuaca bagus dan tidak terlalu dinggin. Tidak ada slju yang saya lihat ketika berkunjung ke Moskaw pertama kali tahun 2000 bersama Jusuf Kalla. Suhu udara masih dibawah 10 drajat celsius sehingga saya masih mengenakan overcoat yang tebal. Benny Sutrisno, Ketua Asosiasi Tektil itu, juga ikut tur dan sering berseloroh kepada saya mengisi kekosongan rasa. Saya pandang wajahnya lalu saya bisikan kepadanya, “Pak Benny saya lihat mirip Anthony Quinn kalau tersenyum”. Senyumannya berubah menjadi tawa dan berkata, “Ha-ha…, ada-ada saja!”.

Baca Juga :   Industri Minyak Sawit Indonesia Berkelanjutan (Bagian XV)

Sumber : Derom Bangun

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like