Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CIII)

Dengan pikiran yang dilandasi faktor-faktor seperti itulah saya memberi tanggapan atas pertanyaan-pertanyaan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri. Saya ketahui bahwa produksi CPO nasional pada tahun 2003 akan meningkat dibandingkan dengan tahun 2002. Karena itu, jika ada tambahan permintaan, hal itu justru merupakan solusi terhadap pemasaran sawit Indonesia. Tinggal bagaimana caranya permintaan baru itu dilayani sehingga mampu memperkuat harga di pasar internasional.

Drijen Sudar mengatakan ada 30 jenis komoditas kita yang akan dilibatkan dalam imbal dagang itu, tetapi yang terbesar adalah CPO, karet alam, tektil dan produk tektil, teh dan kopi. Benny Sutrisno, Ketua Asosiasi Tektil, yang duduk disebelah berbisik kepada saya, “CPO paling gampang. Kalau tektil dan garmen belum ada speknya”. Saya mengiyakan karena CPO memang sudah sering diekspor ke Rusia dengan spesifikasi yang jelas, sedangkan untuk garmen masih diperlukan katalog dan harga satuan.

Baca Juga :   Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian XLIX)

“Kalau CPO bisa berapa, Pak Derom?” tanya Dirjen kepada saya tanpa memberi tahu berapa nilai kontrak atau harga pesawat yang akan dipesan. “Berapa lama masa penyerahanya, Pak?” saya balik bertanya sambil berhitung didalam hati. “Ya, kira-kira setengah tahun “ jawabnya berancar-ancar. “Bisa 300.000 sampai 600.000 ton” jawab saya berupaya tidak mengingatkan diri dengan jumlah yang besar.

Sumber : Derom Bangun

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like