Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CI)

Kunjungan saya ke Moskaw yang kedua kalinya terjadi dalam rangka mengikuti delegasi Pemerintah Indonesia yang dipimpin Presiden Megawati Soekarnoputri. Rombongan berkunjung ke Moskaw sejak tanggal 20 sampai 22 April 2003. Turut dalam rombongan beberapa pejabat tinggi, antara lain Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rini M.S. Suwandi Dirjen Perdagangan Luar Negeri, Deperindag Sudar S.A., Kepala Bulog Widjanarko, dan Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Departemen Pertanian Delima Azhari. Turut juga sejumlah pemimpin asosiasi dan pengusaha dalam rombongan termasuk Benny Sutrisno, Ketua Asosiasi Tektil dan saya selaku ketua Umum Gapki. Kehadiran kami tidak hanya untuk meramaikan, tetapi juga memberikan bahan pertimbangan dengan pihak Rusia menyangkut perdagangan beberpa komoditas.

Sebelum berangkat ke Moskaw, saya sudah mendengar rencana pemerintah untuk membeli pesawat tempur Shukoi buatan Rusia. Disebut-sebut juga keinginan pemerintah untuk membeli Shukoi  itu dengan cara imbal dagang mengunakan beberapa jenis komoditas kita, seperti kelapa sawit dan karet. Tetapi belum pernah dibahas secara mendalam mengenai metode dan jumlah komoditas yang diperlukan. Belum pernah saya hitung berapa ton minyak sawit yang diperlukan untuk membayar satu buah pesawat tempur Shukoi. Juga belum terpikirkan minyak sawit kepunyaan siapa yang akan diserahkan kepada pihak Rusia. Semua itu belum pernah saya bahas dalam rapat pengurus Gapki.

Setelah tiba di Moskaw, para pejabat Indonesia melakukan pertemuan dengan pihak Rusia, merundingkan hal-hal yang menjadi angenda kunjungan, termasuk masalah imbal dagang pesawat Shukaoi. Setelah perundingan pertama, ketika makan siang saya ditanya oleh Dirjen Perdagangan Luar Negeri Suadr, berapa ton CPO yang bisa digunakan untuk imbal beli.

Sumber : Derom Bangun

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like