Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCXXXIII)

Pada bagian lain, alat perontok buah atau alat pemipil ituharus diubah juga. Ada pabrik yang memperpanjang poros pemipilnya sehingga tandan buah itu dibanting dan dirontokan lebih lama. Tapi ada juga yang harus menambah alat kedua yang berupa alat perontok buah berupa alat pemukul yang disebut beater arms stripping machine. Itu semua terjadi pada tahun 1983 di Malaysia ketika produksi sangat melonjak.

Kegembiraan tahun 1983 itu disusul dengan rasa kecewa apa tahun 1984. Diluar dugaan, pohon-pohon sawit berkurang buahnya secara draktis. Semula tidak jelas apa penyebabnya karena dari segi cuaca ternyata curah hujan biasa-baisa saja, dari segi pemupukan perusahaan-perusahaan perkebunan melakukan pemupukan secara biasa. Karena itulah beberapa peneliti di Malaysia menyimpulkan bahwa pohon sawit itu melakukan reaksi balasan.

Baca Juga :   Misi Nasional Biofuel India (Bagian II)

Reaksi balasan dengan jalan mengurangi bunga betina yang dihasilkan. Saya dengan teman-teman diMalaysia bercanda mengatakan, pohon sawit juga sama seperti ibu-ibu. Kalau suatu saat merasa terlalu capek karena terlalu banyak anak yang diurus, maka sang ibu bisa melakukan protes. Untuk mengurangi beban supaya tidak terlalu banyak yang diurus, pohon sawit mengurangi bunga betina. Bagaimanapun juga tahun 1984 terjadi kemerosotan produksi yang luar biasa di Malaysia. Itulah sebabnya pada tahun itu harga minyak sawit meningkat tajam di pasar internasional, termasuk di Indonesia.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like