Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCXXXII)

Surplus panen ternyata bukan saja mendatangkan keuntungan, melainkan efek samping yang tidak diduga. Sejak digunakan sebagai penyerbuk pada 1981, kumbang kamerun telah meningkatkan hasil panen dari sebelumnya. Tandan buah sawit yang biasanya agak longgar sekarang menjadi sangat padat akibat penyerbukan yang sempurna. Kalau serangga domestik hanya membuat penyerbukan mencapai tingkat 80 persen, setelah ada kumbang kamerun penyerbukan seakan-akan mencapai 100 persen. Akibatnya, tandan itu sangat padat dan ketika diolah ternyata beberapa alat pengolahan menjadi tidak mampu memprosesnya. Bagian pengolahan yang disebut pemipilan atau thresher ataupun stripping machine, yaitu alat yang memisahkan buah sawit dengan tandannya, tidak bisa bekerja dengan sempurna. Banyak buah tetap melekat pada tandan, berarti menjadi kerugian pabrik. Karena itu, pihak pabrik terus mengadakan perubahan-perubahan cara pengolahan dan bahkan menambah peralatan.

Perubahan pertama kali dilakukan pada proses perebusan atau strilisasi, yaitu dengan merebus buah sawit berkali-kali. Biasanya tandan buah sawit direbus dengan uap air satu kali saja. Namun, cara tersebut tidak lagi bisa dipakai lagi untuk memproses buah hasil penyerbukan kumbang kamerun karena uap airnya tidak mampu menyerap masuk kedalam tandan buah yang sangat padat itu. Karena itu, prosesnya diubah dengan cara memasukan dan membuang uap air sebanyak tiga kali. Itulah jenis proses perebusan yang disebut tiga puncak, dalam baha Inggris disebut three peaks.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like